CMI News – PT Timah Tbk (TINS) resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) Internal sebagai langkah memperbaiki tata kelola pertambangan, terutama untuk menertibkan aktivitas tambang ilegal di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) miliknya di Bangka Belitung.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyebut kehadiran satgas ini akan menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam memperkuat operasional sekaligus mendorong peningkatan produksi timah ke depan.

“Selama ini tambang legal harus menanggung pajak, royalti, dan biaya reklamasi, sementara tambang ilegal tidak. Kondisi ini membuat kami sulit bersaing di lapangan. Karena itu, satgas internal kami fokus memperbaiki situasi di IUP,” jelas Restu saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (22/9/2025).

Tiga Tugas Utama Satgas

Restu menjabarkan ada tiga misi besar yang diemban Satgas Nanggala, sebutan untuk tim khusus ini:

1. Penyekatan Wilayah

Satgas bertugas memastikan tidak ada aktivitas tambang ilegal di area konsesi PT Timah. Penyekatan ini dilakukan untuk mengurangi persaingan tidak sehat antara tambang legal dan ilegal yang selama ini terjadi “head-to-head” di Bangka Belitung.

2. Legalisasi Penambang Ilegal

Alih-alih hanya menindak, PT Timah memilih jalan integrasi. Penambang yang sebelumnya berstatus ilegal diarahkan masuk ke dalam sistem legal perusahaan melalui koperasi mitra. Saat ini, ada sekitar 30 koperasi penambang, nelayan, dan karyawan yang telah difasilitasi untuk menyalurkan hasil tambangnya secara resmi ke PT Timah.

3. Penertiban Kolektor

Kolektor timah yang selama ini menjadi penghubung penambang dengan pasar juga akan dibina agar beroperasi sesuai aturan. Jika ada kolektor yang menolak masuk ke jalur legal, perusahaan menegaskan akan mengeluarkan mereka dari wilayah IUP.

Harapan untuk Produksi & Masyarakat

Dengan langkah ini, manajemen PT Timah berharap aktivitas tambang ilegal bisa ditekan, sekaligus meningkatkan output produksi perusahaan. “Mudah-mudahan dengan mekanisme ini, keuntungan tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat Bangka Belitung,” ujar Restu.

Data menunjukkan, produksi bijih timah PT Timah pada 2024 mencapai 19.437 ton Sn, naik dari 14.855 ton Sn di 2023. Namun, pada Semester I-2025 produksinya turun 32% menjadi 6.997 ton Sn. Target perusahaan hingga akhir 2025 dipatok 21.500 ton Sn.

Sementara itu, produksi logam timah pada 2024 mencapai 18.915 metrik ton, naik dari 15.340 metrik ton pada 2023. Di paruh pertama 2025, produksinya turun 29% menjadi 6.870 metrik ton, dengan target sepanjang tahun 21.545 metrik ton.

Untuk penjualan, PT Timah mencatat 17.507 metrik ton pada 2024, naik dari 14.385 metrik ton pada 2023. Namun pada Semester I-2025, angka ini terkoreksi 28% menjadi 5.983 metrik ton. Target penjualan sepanjang tahun dipatok 19.065 metrik ton, dengan asumsi harga rata-rata US$29.000 per ton. Menariknya, harga jual rata-rata pada Semester I-2025 justru tercatat lebih tinggi di US$32.816 per ton, naik 8% year-on-year.