
CMI News – Pemerintah Indonesia kian serius memperluas penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar menuju transisi energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Saat ini, produk Pertamax Green 95 milik PT Pertamina (Persero) telah mengandung campuran etanol sebesar 5%. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai angka ini masih bisa ditingkatkan secara bertahap.
“Pak Menteri malah mendorong agar pemanfaatan etanol bisa lebih besar lagi,” ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, dikutip Selasa (7/10/2025).
Kendaraan Sudah Siap, Tapi Pasokan Etanol Masih Terbatas
Secara teknis, kendaraan bermotor di Indonesia sebenarnya sudah mampu menggunakan BBM dengan campuran etanol hingga 20% (E20). Infrastruktur pendukung pun telah disiapkan, misalnya fasilitas blending milik Pertamina di Plumpang, Jakarta, yang sudah kompatibel untuk pencampuran hingga kadar tersebut.

Namun, kendala utama terletak pada keterbatasan pasokan etanol dalam negeri. Pemerintah masih berhati-hati membuka opsi impor karena ingin memastikan kemandirian energi tetap terjaga.
“Karena sumbernya terbatas. Pak Menteri tidak mau impor,” lanjut Eniya.
Dorongan Pembangunan Pabrik Bioetanol Domestik
Untuk mengatasi kendala pasokan, pemerintah tengah mendorong pembangunan pabrik bioetanol baru di berbagai daerah, termasuk rencana proyek besar di Merauke, Papua. Pabrik ini diproyeksikan mampu memproduksi 150 ribu hingga 300 ribu kiloliter etanol per tahun, meski saat ini masih dalam tahap persiapan lahan.
Langkah tersebut diharapkan menjadi titik balik dalam pengembangan energi berbasis biomassa di Indonesia, terutama dari bahan baku seperti tebu dan singkong yang mudah ditemukan di wilayah tropis.
Indonesia Masih Tertinggal dari Negara Lain
Jika dibandingkan dengan negara lain, pemanfaatan etanol di Indonesia masih tergolong rendah.
Amerika Serikat sudah menerapkan E20, Brazil bahkan memiliki sistem flex-fuel dengan campuran etanol hingga E100, sementara Thailand dan India sudah mencapai E20. Di kawasan Eropa, E10 telah menjadi standar umum untuk kendaraan.
“Amerika sudah E20, Brazil fleksibel antara E35 sampai E100, Thailand dan India sudah E20, sedangkan negara-negara Eropa rata-rata E10,” jelas Eniya.
Transisi Energi dan Efek Ekonomi
Penggunaan etanol dalam BBM bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga memiliki implikasi ekonomi yang besar. Dengan memperluas pemanfaatan bioetanol, Indonesia dapat:
Mengurangi ketergantungan impor BBM dan tekanan terhadap neraca perdagangan,
Meningkatkan nilai tambah produk pertanian dalam negeri,
Membuka lapangan kerja di sektor industri energi terbarukan.
Kebijakan ini juga sejalan dengan peta jalan transisi energi nasional dan target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Meski masih menghadapi tantangan dalam skala produksi dan investasi, arah kebijakan pemerintah menunjukkan komitmen kuat untuk menjadikan bioetanol sebagai bagian penting dari masa depan energi Indonesia.






