CILACAP – CMI News : Pedagang bendera merah putih dan berbagai bendera umbul-umbul, menjelang perayaan HUT RI ke-79 menjamur di pinggir jalan Kota Cilacap.

Para pedagang atau penjual bendera ini sudah ada di beberapa jalan protokol di Kota Cilacap, seperti Jl. Suprapto, Jl. kauman, Jl. Tendean, Jl. Gatot Subroto, Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Tentara Pelajar komplek lapangan Krida Nusantara, dan hampir merata di setiap ruas jalan di wilayah Kabupaten Cilacap.

Memanfaatkan trotoar atau pepohonan di pinggir jalan, para pedagang ini menjajakan jualannya.

Salah satu penjual bendera di jalan Tendean, Slamet Haryanto, mengungkapkan, dirinya selalu berjualan di lokasi tersebut pada setiap menjelang perayaan HUT RI.

“Dalam setahun biasanya saya berjualan 2 kali, saat menjelang perayaan HUT RI dan Hari Jadi Kabupaten Cilacap”, ucapnya, Kamis (8/8/2024).

Menurutnya, satu minggu sebelum bulan Agustus, dirinya sudah mulai berjualan.

“Berbagai macam bendera yang saya jual, ada bendera merah putih dari berbagai ukuran mulai dari yang terkecil hingga besar, umbul-umbul aneka warna. Untuk harganya dari Rp. 5 ribu hingga Rp. 100 ribu”, jelasnya.

Pedagang bendera di kota Cilacap.(foto:Awan)

Selain itu, lanjut Slamet, dirinya juga melihat pangsa pasar atau momentum. “Saat ini bendera merah putih, ada juga bendera Palestina, kalau lagi musim bola ya kita jual bendera atau atribut bola”, imbuhnya.

Selain berbagai ukuran bendera merah putih dan umbul-umbul, Slamet juga menjual tiang benderanya dari bambu.

“Macam-macam ukuran bambunya, ada yang layung (umbul-umbul panjang), bambu untuk lampu hias, serta bambu buat tongkat pramuka juga ada. Harganya dari Rp.10 ribu sampai Rp.20 ribu per batang”, ujar Slamet.

Slamet mengatakan bahwa menurutnya, peminat atau pembeli pada tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu. “Ramainya setiap hari minggu, bisa habis 5-6 kodi, kalau hari biasa sepi”, keluhnya.

Meski sepinya pembeli di hari biasa, Slamet tetap merasa optimis, karena bendera yabg di jualnya merupakan produksinya sendiri, sehingga dirinya bisa mengatur biaya produksinya.

“Jika benderanya tidak laku, masih bisa disimpan untuk tahun berikutnya, asal masih terbungkus rapih, jika ada yang mau ikut jualan kita juga siapkan barangnya”, pungkas Slamet.

Tidak hanya berjualan di Jl. Tendean, pihaknya juga membuka cabang jualannya di Jl. Perintis Kemerdekaan, dan Jl. Gatot Subroto seputaran Terminal Bis Bangga Mbangun Desa Cilacap.

Slamet Haryanto mengaku sudah berjualan bendera di Cilacap selama 10 tahun, dengan omset perbulan mencapai Rp. 5 juta.