Berbeda dengan Khomeini yang dikenal sebagai simbol ideologis revolusi, Khamenei membangun kekuasaannya melalui konsolidasi militer, politik, dan jaringan pengaruh regional.
Sebelum menduduki posisi tertinggi negara, Khamenei pernah menjabat Presiden Iran pada masa Perang Iran–Irak (1980–1988).
Pengalaman perang tersebut membentuk pandangannya yang sangat waspada terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat, yang kala itu mendukung Irak di bawah Saddam Hussein.
“Dia adalah presiden masa perang yang keluar dari konflik dengan keyakinan bahwa Iran selalu berada dalam ancaman dan harus bersiap setiap saat,” ujar Vali Nasr, pakar Iran, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin, (2/3/2026).
Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang menjadi kekuatan dominan, tak hanya di sektor pertahanan, tetapi juga politik dan ekonomi.
Khamenei mendorong konsep “ekonomi perlawanan” sebagai strategi menghadapi sanksi Barat dan menjaga kemandirian nasional.
Namun, pendekatan keras ini memicu kritik luas di dalam negeri. Penanganan represif terhadap protes pemilu 2009 serta gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan menegaskan gaya kepemimpinan Khamenei yang memandang gejolak domestik sebagai ancaman keamanan negara.











