Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Ekonomi

Mengapa Logam Tanah Jarang Jadi Rebutan Dunia? Ini Alasan Donald Trump Turun Tangan

×

Mengapa Logam Tanah Jarang Jadi Rebutan Dunia? Ini Alasan Donald Trump Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Cikarang, CMI News — Dalam beberapa tahun terakhir, istilah logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) semakin sering muncul dalam diskusi geopolitik dan ekonomi global.

Meskipun namanya masih terdengar asing di telinga masyarakat umum, logam tanah jarang telah menjadi komponen penting dalam berbagai teknologi modern—mulai dari ponsel pintar, mobil listrik, turbin angin, hingga sistem pertahanan militer canggih.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Menariknya, keberadaan logam ini sempat menjadi perhatian serius Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, yang melihat ketergantungan negerinya terhadap pasokan dari China sebagai ancaman strategis.

Lantas, apa sebenarnya logam tanah jarang itu dan mengapa ia begitu diperebutkan?

Apa yang Dimaksud dengan Logam Tanah Jarang?

Logam tanah jarang adalah sekelompok 17 unsur kimia dalam tabel periodik, yang sebagian besar termasuk dalam deret lantanida, serta skandium dan yttrium.

Unsur-unsur ini memiliki karakteristik khusus seperti daya magnet tinggi, konduktivitas listrik yang baik, serta ketahanan terhadap panas—menjadikannya bahan baku penting bagi industri teknologi tinggi.

Meski namanya mengandung kata “jarang”, logam ini sebenarnya cukup melimpah di kerak bumi. Namun, karena keberadaannya tersebar dalam konsentrasi yang sangat kecil dan sering tercampur dengan unsur lain, proses ekstraksi dan pemurniannya memerlukan teknologi tinggi serta biaya besar. Inilah yang membuatnya menjadi komoditas bernilai strategis.

Ketergantungan Dunia terhadap China

Saat ini, China menguasai lebih dari 60% produksi logam tanah jarang global dan hampir seluruh kemampuan pemurniannya.

Negara tersebut tidak hanya memiliki cadangan melimpah, tetapi juga mengembangkan rantai pasok dari hulu ke hilir yang sangat terintegrasi.

Dominasi China inilah yang kemudian menjadi sorotan dalam hubungan dagang antara Washington dan Beijing.

Di era Presiden Donald Trump, logam tanah jarang dikategorikan sebagai salah satu komoditas strategis yang krusial bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Trump bahkan menerbitkan perintah eksekutif untuk mempercepat pengembangan tambang logam tanah jarang di dalam negeri serta memperkuat kerja sama dengan negara mitra demi mengurangi ketergantungan pada China.

Kepentingan Strategis dalam Konteks Global

Permintaan terhadap logam tanah jarang terus meningkat seiring berkembangnya industri berbasis energi bersih dan digitalisasi.

Kebutuhan akan magnet neodimium dalam motor listrik dan generator turbin angin, misalnya, membuat unsur ini sangat vital dalam transisi menuju energi terbarukan.

Selain itu, industri militer juga sangat bergantung pada logam tanah jarang untuk memproduksi radar, sistem peluru kendali, dan alat komunikasi canggih.

Maka tidak mengherankan apabila negara-negara besar berusaha keras mengamankan akses terhadap komoditas ini demi menjaga kestabilan teknologi dan pertahanan mereka.

Potensi Indonesia dalam Industri Logam Tanah Jarang

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi logam tanah jarang yang cukup menjanjikan, terutama sebagai mineral ikutan dari pertambangan timah di wilayah Bangka Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi.

Namun, hingga saat ini pengelolaan dan pemanfaatannya masih tergolong minim, baik dari sisi regulasi, teknologi, maupun investasi.

Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, logam tanah jarang bisa menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok global industri teknologi tinggi, sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan nasional.









error:
Verified by MonsterInsights