
CMI News – Kekalahan telak Manchester United dari rival sekota, Manchester City, kembali memunculkan tanda tanya besar soal masa depan Ruben Amorim di kursi pelatih.
Skor 0-3 di Etihad Stadium pada pekan keempat Premier League 2025/2026 bukan sekadar hasil buruk, melainkan sinyal kuat bahwa perjalanan Amorim bersama Setan Merah tidak berjalan sesuai harapan.
Kekalahan itu disaksikan langsung oleh Sir Jim Ratcliffe, CEO Omar Berrada, dan Direktur Sepak Bola Jason Wilcox.
Bagi publik Old Trafford, kehadiran mereka di tribun terasa seperti “audit lapangan” terhadap kinerja Amorim.
Legenda MU, Gary Neville, bahkan menyebut situasi ini sebagai deja vu. Menurutnya, klub berulang kali mendatangkan manajer dengan reputasi tinggi, namun gagal menjawab ekspektasi.

“Saya sudah melihat film ini berkali-kali. Manajer datang dengan nama besar, investasi besar, tapi hasil di lapangan tetap mengecewakan,” ujar Neville melalui Sky Sports.
Statistik yang Mengkhawatirkan
Sejak ditunjuk menjadi manajer MU, catatan Amorim di Premier League jauh dari memuaskan.
Dari 31 laga, hanya delapan kemenangan yang diraih, dan ironisnya sebagian besar melawan tim yang kini sudah terdegradasi.
Musim ini saja, United tercecer di peringkat 14 klasemen, hanya berjarak dua tingkat dari zona degradasi.
Jika tren ini berlanjut, Neville memperingatkan bahwa pertandingan melawan Chelsea pekan depan bisa menjadi titik kritis.
Kekalahan lain berpotensi membuat MU merosot ke peringkat 15 bahkan 16.
“Tidak bisa diterima jika pada awal Oktober United masih terjebak di papan bawah, apalagi setelah belanja £200 juta dan menjalani pramusim penuh,” tegas Neville.
Kehadiran Ratcliffe dan jajaran manajemen bukan sekadar formalitas. Itu menjadi pesan tersirat bahwa klub ingin melihat progres nyata. Dengan dukungan finansial masif, ruang untuk pembenaran semakin sempit.
Bagi Amorim, hasil positif dalam beberapa pekan ke depan bukan lagi target, melainkan keharusan. Jika tidak, ancaman pemecatan bisa datang lebih cepat dari perkiraan.
Neville menilai situasi ini membutuhkan percepatan adaptasi.
“Harus ada perubahan cepat, ide sang manajer harus segera diterima oleh para pemain. Kalau tidak, semuanya akan runtuh,” katanya.
Meski tekanan kian besar, Amorim menegaskan tidak akan mengubah filosofi permainan yang ia terapkan.
Ia bahkan mengatakan, jika klub ingin perubahan instan, maka keputusan ada di tangan manajemen untuk mencari pelatih baru.
Pendekatan keras kepala ini mencerminkan keyakinannya pada sistem yang sudah teruji di Portugal.
Namun, di Premier League yang penuh tuntutan hasil cepat, kesabaran manajemen dan suporter kerap menjadi barang mewah.
Neville sendiri menutup analisanya dengan nada pesimistis.
“Saya khawatir dengan masa depan Amorim. Ini memang belum saatnya panik, tapi kita semua pernah melihat cerita seperti ini sebelumnya,” ujarnya.






