
Cikarang, CMI News – Dalam lima tahun terakhir, iklim investasi hulu migas Indonesia menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Pemerintah dinilai lebih terbuka terhadap masukan pelaku usaha, termasuk memberikan fleksibilitas dalam pemilihan skema kontrak kerja sama.
Meski begitu, sejumlah tantangan fundamental masih perlu dibenahi agar daya tarik Indonesia semakin kompetitif di kawasan Asia Pasifik.
Menurut Pri Agung Rakhmanto, pakar migas dari Universitas Trisakti, perubahan positif ini bermula saat pemerintah tidak lagi memaksakan penggunaan Production Sharing Contract (PSC) Gross Split semata.
Kontraktor kini bisa memilih skema lain, termasuk PSC cost recovery, yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing proyek.

“Fleksibilitas inilah yang membuat investor lebih apresiatif, karena mereka diberi ruang untuk menyesuaikan strategi,” ujar Pri Agung dalam keterangannya dikutip Minggu (31/8/2025).
Meski ada perbaikan, posisi Indonesia masih berada di urutan 9 dari 14 negara Asia Pasifik dalam indeks iklim investasi hulu migas (IHS Markit, Juni 2025).
Indonesia masih di bawah Vietnam, Kamboja, hingga Filipina, dan hanya lebih unggul dari Pakistan serta Myanmar.
Indeks tersebut menilai empat aspek utama:
Legal & contractual rating: 5,34
Fiscal system rating: 5,11
Risk rating: 5,53
Activity & success rating: 6,03
Catatan positif datang dari aspek aktivitas dan tingkat keberhasilan investasi, di mana Indonesia menempati posisi keempat dengan skor 6,03 pada 2025, naik signifikan dari 5,0 pada 2020.
Hal ini menunjukkan prospek operasi hulu migas masih cukup menjanjikan.
Menurut Pri Agung, ada dua tantangan utama yang perlu diatasi. Pertama, revisi Undang-Undang Migas yang sudah lama tertunda.
Kepastian hukum menjadi kunci penting untuk menarik lebih banyak investasi asing.
Kedua, sebagian besar cadangan migas Indonesia berada di wilayah terpencil dan berisiko tinggi.
Ditambah lagi, banyak lapangan migas existing sudah dalam fase mature sehingga mengalami penurunan produksi alami.
“Indonesia sudah melewati fase yang kini tengah dialami Vietnam. Kita butuh temuan besar (giant fields) untuk kembali menambah produksi. Terakhir kita punya Blok Cepu, setelah itu belum ada yang sebanding,” jelas Pri Agung.
Kebangkitan hulu migas Indonesia sangat bergantung pada realisasi sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN), seperti Blok Masela, Indonesia Deepwater Development (IDD), dan Tangguh UCC.
Jika proyek-proyek tersebut berhasil onstream, Indonesia akan mengirim sinyal positif kepada investor global.
Bagi perusahaan migas internasional (International Oil Company/IOC), daya tarik utama ada pada cadangan besar.
Standarnya, lapangan minyak harus memiliki cadangan minimal 500 juta barel, sementara lapangan gas di atas 3 TCF agar layak dikembangkan secara mandiri.
Jika lebih kecil, biasanya hanya dianggap sebagai perpanjangan (extension) dari lapangan yang sudah ada.






