Kisah Nyata, CMI News – “Mama, handphone mana?” Teriakan itu menjadi alarm pagi yang tak pernah absen di rumah kami. Rasanya hati ini mencelos setiap melihat anakku, ia lebih bersemangat meraih gadget daripada sarapan.
Awalnya, saya pikir memberikan gadget adalah solusi agar anak tenang saat saya sibuk melakukan pekerjaan rumah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Hafis berubah menjadi anak yang mudah marah, sulit tidur, dan sekolahnya malas.
Saya sadar, saya harus melakukan sesuatu. Perjalanan melepaskan anak dari kecanduan gadget tidaklah mudah, penuh drama dan air mata. Tapi, saya percaya, setiap perjuangan pasti ada hasilnya.
Langkah Awal: Mengakui Masalah dan Menetapkan Batasan
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengakui bahwa anak saya memiliki masalah kecanduan gadget. Saya mulai mencari informasi tentang dampak negatif gadget pada anak dan cara mengatasinya.
Setelah itu, saya menetapkan aturan tegas tentang penggunaan gadget. Anak hanya boleh menggunakan gadget selama satu jam sehari setelah semua tugas sekolah selesai. Awalnya, anak protes keras, bahkan sampai mogok makan. Tapi, saya tetap teguh pada pendirian saya.

















