
Cikarang, CMI News – Harga minyak mentah global kembali bergerak melemah pada perdagangan Selasa (12/8/2025), di tengah sikap wait-and-see pelaku pasar terhadap rilis laporan persediaan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) dan kekhawatiran penurunan konsumsi menjelang berakhirnya musim mengemudi musim panas di Amerika Serikat pada awal September.
Mengacu data Reuters, minyak Brent ditutup terkoreksi 0,77% atau turun 51 sen menjadi US$ 66,12 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) merosot 1,24% atau 79 sen ke level US$ 63,17 per barel.
Faktor Musiman dan Sentimen Pasar
“Tekanan ini murni faktor musiman. Tidak ada dorongan positif dari pasar saham, meski data inflasi AS cukup baik dan mengindikasikan peluang pemangkasan suku bunga,” jelas John Kilduff, Partner di Again Capital.
Kilduff menambahkan, permintaan solar—komponen penting dalam konsumsi minyak global—mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan adanya perlambatan kebutuhan energi dalam jangka pendek.

Pasar kini menunggu data stok minyak dari American Petroleum Institute (API) pada Selasa waktu setempat dan laporan resmi EIA yang akan dirilis Rabu (13/8/2025).
Proyeksi Suplai dan Permintaan
Dari sisi suplai, laporan bulanan OPEC dan EIA yang dirilis Selasa memproyeksikan adanya kenaikan produksi minyak secara global pada 2025. Namun, keduanya sepakat bahwa produksi minyak AS akan menurun pada 2026, sementara pasokan dari kawasan lain berpotensi meningkat.
OPEC memprediksi permintaan minyak dunia pada 2026 naik 1,38 juta barel per hari (bph), atau 100 ribu bph lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
EIA memproyeksikan produksi minyak AS pada 2025 akan mencapai rekor 13,41 juta bph, didorong efisiensi sumur, namun diperkirakan turun menjadi 13,28 juta bph pada 2026—penurunan pertama sejak 2021.
Menariknya, EIA juga memangkas proyeksi harga rata-rata Brent untuk 2026 menjadi US$ 51 per barel, dari perkiraan awal US$ 58 per barel, seiring langkah OPEC+ yang mempercepat penambahan produksi.
Faktor Geopolitik
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan tarif dengan China hingga 10 November 2025. Langkah ini memberi sedikit ruang bernapas bagi perdagangan global, meskipun sentimen pasar minyak tetap dibayangi kekhawatiran permintaan yang melambat.







