Cikarang, CMI News – Harga minyak dunia kembali mencatat penguatan, menyusul lonjakan sebesar 1% sehari sebelumnya. Kenaikan ini menandai minggu pertama harga minyak naik dalam tiga pekan terakhir, dipicu oleh ketidakpastian seputar proses perdamaian Rusia dan Ukraina yang belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Menurut data Reuters, harga minyak Brent ditutup naik tipis 6 sen (0,09%) ke US$ 67,73 per barel, sementara WTI naik 14 sen (0,22%) menjadi US$ 63,66 per barel. Secara mingguan, Brent menguat 2,9% dan WTI naik 1,4%.

Ketidakpastian Politik Menjadi Sentimen Utama

“Semua mata tertuju pada langkah berikutnya dari Presiden Trump, namun dalam beberapa hari ke depan, kemungkinan belum ada perkembangan baru,” ujar analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo.

Trump sendiri menyatakan masih menunggu kesediaan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk bekerja sama dalam menghentikan konflik. Namun, proses negosiasi gencatan senjata berjalan lambat, sehingga pasar energi masih dibayangi ketidakpastian.

Perang yang sudah berlangsung lebih dari 3,5 tahun kembali memanas. Rusia melancarkan serangan udara di dekat perbatasan Ukraina-Uni Eropa pada Kamis (21/8/2025), sementara Ukraina mengklaim menyerang kilang minyak Rusia dan stasiun pompa di Unecha, bagian dari jaringan pipa Druzhba yang memasok minyak ke Eropa. Akibatnya, pasokan minyak Rusia ke Hungaria dan Slovakia berpotensi terhenti setidaknya lima hari, menambah tekanan pada pasar global.

Dukungan dari Data Pasokan AS

Harga minyak juga mendapat dorongan dari penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Data EIA mencatat stok minyak menurun 6 juta barel pekan yang berakhir 15 Agustus, jauh melampaui ekspektasi penurunan 1,8 juta barel.

Selain itu, jumlah rig minyak dan gas AS kembali turun untuk keempat kalinya dalam lima pekan terakhir. Baker Hughes melaporkan rig aktif turun satu unit menjadi 538, terendah sejak pertengahan Juli 2025.

Faktor Ekonomi dan Prospek Permintaan

Di sisi lain, data ekonomi Jerman menunjukkan kontraksi 0,3% pada kuartal II, sedikit menahan kenaikan harga karena menimbulkan kekhawatiran prospek permintaan energi di Eropa.

Sementara itu, Ketua The Fed, Jerome Powell, memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September 2025, meskipun belum ada komitmen resmi. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung pertumbuhan ekonomi dan berpotensi meningkatkan konsumsi energi, termasuk minyak.