Prediksi ini didasarkan pada proyeksi surplus pasokan yang semakin melebar, dengan tambahan stok global hampir 800 juta barel hingga dua tahun ke depan.
Menurut proyeksi tersebut, negara-negara OPEC+ diperkirakan akan menyimpan sekitar 270 juta barel, atau setara sepertiga dari total cadangan global pada 2026.
Sementara itu, melemahnya permintaan di negara-negara OECD turut mempercepat penurunan nilai wajar Brent dari kisaran US$ 70-an saat ini.
Meski begitu, faktor Tiongkok bisa menjadi penopang harga. Goldman menilai percepatan pertumbuhan stok minyak Tiongkok, yang bisa mencapai 0,8 juta barel per hari, berpotensi menambah rata-rata harga Brent sekitar US$ 6 per barel pada 2026 dibandingkan skenario dasar mereka di level US$ 62 per barel.













