Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Ekonomi

Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik Global

×

Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik Global

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Dunia Menguat Tipis, Pasar Yakin The Fed Pangkas Suku Bunga September
Harga Emas Dunia Menguat Tipis, Pasar Yakin The Fed Pangkas Suku Bunga September (foto: pexels)

Cikarang, CMI News — Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat (18 Juli 2025), di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global, baik dari sisi ekonomi maupun geopolitik.

Emas yang sempat mengalami tekanan, kini kembali menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Harga emas spot tercatat naik 0,3% ke level US$ 3.350 per ons troi, setelah sehari sebelumnya terkoreksi cukup tajam, yakni 1,1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas di AS ditutup menguat 0,4% ke US$ 3.358,3.

Dolar Melemah, Emas Kembali Bersinar

Analis Marex, Edward Meir, menyebut bahwa pelemahan dolar menjadi katalis utama kenaikan harga logam mulia.

Tercatat, indeks dolar AS turun 0,3%, yang secara teknikal membuat harga emas menjadi lebih terjangkau bagi investor non-AS.

Kondisi ini mendorong minat beli kembali terhadap emas setelah sebelumnya tertekan oleh aksi ambil untung di tengah fluktuasi pasar global.

Risiko Makro Ekonomi Global Masih Membayangi

Menurut analis logam mulia Suki Cooper dari Standard Chartered Bank, kekhawatiran terhadap membengkaknya utang AS, ketegangan dagang, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter, masih menjadi pendorong permintaan terhadap emas.

โ€œUntuk saat ini, emas masih terlihat cukup solid karena tekanan makroekonomi belum menunjukkan tanda-tanda mereda,โ€ ujarnya.

Sementara itu, Indonesia dan Amerika Serikat disebut masih menyelesaikan detail kesepakatan dagang, yang menambah spekulasi pasar terhadap arah hubungan perdagangan ke depan.

Dinamika Politik AS dan Harapan Penurunan Suku Bunga

Di sisi lain, dinamika politik domestik AS juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Presiden Donald Trump kembali melontarkan kritik kepada Ketua The Fed, Jerome Powell, karena dianggap lamban memangkas suku bunga.

Meski Trump menyatakan tidak akan memecat Powell, tekanan politik ini mengisyaratkan potensi perubahan arah kebijakan moneter.

Pasar kini memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali hingga akhir 2025, total sebesar 50 basis poin.

Kebijakan ini secara historis cenderung menguntungkan emas, karena menurunkan opportunity cost dalam menyimpan aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.

Berbeda dengan emas, harga logam mulia lain menunjukkan kinerja yang bervariasi:

Platinum turun 2% ke level US$ 1.428,65 per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh harga tertinggi sejak Agustus 2014.

Analis BNP Paribas, David Wilson, menyebutkan bahwa melemahnya permintaan fisik dan perhiasan dari China kemungkinan akan menekan harga platinum pada kuartal III 2025.

Palladium juga ikut terkoreksi sebesar 1,6% menjadi US$ 1.259,09 per ons.

Namun, masih ada harapan dari sisi industri otomotif. Dr Jonathan Butler, Head of Business Development & Strategy Mitsubishi Corp, menilai sentimen palladium tetap positif menjelang implementasi standar emisi baru China 7 pada 2028, yang akan mendorong kebutuhan katalis logam.

Di sisi lain, harga perak naik tipis 0,3% ke US$ 38,23 per ons, mengikuti pergerakan positif emas.


Eksplorasi konten lain dari CMI News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





















banner
error:

Verified by MonsterInsights