Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Cerpen

GEDUNG TUA

×

GEDUNG TUA

Sebarkan artikel ini
GEDUNG TUA
foto: Ilutrasi GEDUNG TUA

Dua hari perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya berakhir bagi Rani, Septi, Unul, dan Evina. Mereka baru saja turun dari bus di sebuah terminal besar yang sibuk.

“Ran, kakimu masih sakit?” tanya Unul sambil memegangi kaki Rani dengan lembut. Rani tersenyum lemah. “Iya, masih sakit sedikit.” Septi menepuk bahu Rani untuk menguatkan. “Jangan khawatir, sebentar lagi juga sembuh.”

Mereka berjalan ke arah pertokoan dan warung-warung makan untuk mencari tempat beristirahat sejenak. “Gimana, hari Sabtu besok kita berangkat lagi?” tanya Unul sambil memesan minuman. Septi mengangguk. “Iya, lihat saja nanti.” Rani dan Evina hanya tersenyum seraya mengangguk setuju. Setelah membayar, mereka keluar dari warung makan dan berpisah di depan terminal. Rani menunggu angkutan umum sendirian, sementara Septi, Unul, dan Evina pulang ke arah yang berbeda.

Bayang-Bayang Trauma

Menjelang malam, Rani masih tidak dapat tertidur. Rasa trauma masih tergambar jelas di wajahnya, seperti bayang-bayang yang enggan pergi. Dia duduk di ranjang, memeluk bantalnya dengan erat sambil membayangkan kembali kejadian yang menimpanya di bukit itu.

“Untung Septi, Unul, dan Evina datang menyelamatkanku,” batin Rani sambil menggigil. Rani mencoba memejamkan mata hingga akhirnya rasa kantuk itu datang. Dia mulai terlelap dalam tidurnya meski raut wajahnya masih menunjukkan sisa trauma. Ibu Rani menatap anaknya yang sudah tertidur dengan ekspresi penuh kasih sayang. Dia menutup pintu kamar dengan lembut, membiarkan Rani beristirahat dengan tenang.

Malam semakin larut dan sunyi kian terasa. Hanya terdengar suara jangkrik yang bersahut-sahutan di tengah keheningan, layaknya lagu pengantar tidur bagi Rani.

Pagi yang Baru

Matahari pagi masih berwarna merah jingga di ufuk timur, memancarkan cahaya lembut di atas desa yang masih sepi. Embun pagi membasahi rerumputan, membuat udara terasa segar dan harum. Rani berjalan di jalanan yang sunyi, menikmati suasana desa yang asri dan damai.

Dia berhenti di sebuah tikungan jalan untuk menunggu mobil yang akan membawanya ke terminal—tempat ketiga sahabatnya akan berkumpul. Rani merasa gembira membayangkan akan bertemu Septi, Unul, dan Evina. Dia sudah tidak sabar mendengar cerita mereka tentang apa yang terjadi setelah mereka berpisah kemarin.

Rani menarik napas dalam-dalam, menikmati udara pagi yang jernih. Dia memandang sekeliling, menikmati hamparan persawahan yang menghijau dan kicauan burung. Suasana pagi yang damai itu membuatnya merasa lebih tenang dan siap menghadapi hari ini.

Rani menatap nanar ke arah gunung yang menjulang tinggi di kejauhan dengan puncak yang rimbun dan berbukit. Dia merasa ada sesuatu yang menariknya ke sana, namun ia tidak tahu apa itu. “Kapan aku bisa ke sana?” batin Rani merasa penasaran.

Sebuah mobil berwarna kuning muncul dari kejauhan, mengejutkan Rani dari lamunannya. Dia segera menyeberang jalan, menyetop mobil tersebut, dan naik ke dalamnya. Mobil itu bergerak maju, meninggalkan deru mesin dan kepulan asap hitam di jalanan.

Keberangkatan Menuju Kota

Rani duduk di dalam mobil dengan perasaan yang mulai tergugah. Dia melihat ke luar jendela, menyaksikan pemandangan pagi yang mulai ramai. Beberapa kendaraan sudah saling menyalip, menambah kesibukan suasana pagi.

“Tuh, Rani datang!” ucap Unul sambil menunjuk ke arah mobil kuning yang berhenti di depan gerbang terminal. “Ayo!” ajak Septi kepada kedua temannya. Mereka berkumpul di depan toko buku yang baru saja buka. “Gimana sekarang?” tanya Septi. “Jadi, kita ke museum tua?” tanyanya lagi memastikan. “Iya, jadi,” balas Rani. “Ayo, kita berangkat sekarang.” “Duh, kelamaan… ayo berangkat!” sahut Unul sambil berjalan ke arah bus yang sedang menunggu penumpang (ngetem) di seberang jalan.

Keempat remaja itu segera naik ke bus yang menuju sebuah kota kecil di wilayah kabupaten. Perjalanan pun dimulai. Mereka menikmati pemandangan bukit-bukit kecil, pepohonan, dan luasnya persawahan yang menghiasi perjalanan. Dua jam berlalu, bus mulai melewati pasar tradisional dan gedung-gedung besar di sudut kota.

Sesampainya di tujuan, mereka turun dan berjalan di sepanjang deretan pertokoan. Mereka disambut hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk dengan aktivitas harian. Suara kendaraan dan aroma makanan yang lezat memenuhi udara.

Rani dan teman-temannya berjalan santai menikmati suasana kota. Mereka melihat-lihat toko yang berjejer, sesekali berhenti untuk membeli camilan. Keempat remaja itu berniat mencari sebuah museum tua yang sudah lama tidak dikunjungi orang. Mereka tidak tahu alasan mengapa bangunan itu menjadi tidak populer, namun rasa penasaran mendorong mereka untuk mencari tahu lebih lanjut.





banner
error:
Verified by MonsterInsights