Wakil Jaksa Agung Todd Blanche mengakui adanya kesalahan dan menyebut pihaknya telah bertindak cepat melakukan perbaikan.
Namun bagi para korban, penyesalan itu dinilai terlambat.
“Nama, alamat, nomor saya muncul begitu saja. Itu bukan keadilan,”
kata Dani Bensky, salah satu penyintas.
Korban lain melaporkan ancaman pembunuhan dan intimidasi, hanya beberapa hari setelah dokumen dipublikasikan.
“Ketika sistem yang seharusnya melindungi justru melukai, itu pengkhianatan yang sangat dalam,” ujar penyintas lainnya.
Kongres Ancam Langkah Hukum
Meski DOJ menyatakan telah memenuhi kewajiban hukum, Kongres menilai jutaan arsip lain masih ditahan dengan dalih hak istimewa hukum.
Ro Khanna bersama anggota DPR lintas partai Thomas Massie bahkan mengancam langkah contempt of Congress hingga impeachment terhadap Jaksa Agung jika akses penuh tetap ditolak.
“Kongres tidak bisa mengawasi penegakan hukum jika catatan penting terus disembunyikan,”
tegas Khanna.











