
CMI News – Raksasa teknologi asal Jerman, Bosch, resmi mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 13.000 karyawan hingga 2030 mendatang. Keputusan ini menjadi salah satu langkah efisiensi terbesar perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, di tengah tekanan pasar global yang semakin menantang.
Bosch mengakui tengah menghadapi biaya berlebih sebesar €2,5 miliar per tahun. Kondisi ini diperburuk oleh melemahnya permintaan, ketatnya persaingan, hingga hambatan perdagangan internasional. Untuk menutup beban tersebut, manajemen memutuskan serangkaian langkah penghematan, mulai dari pemangkasan tenaga kerja, pengurangan biaya material dan operasional, hingga efisiensi rantai pasok serta investasi fasilitas.
Fokus pada Efisiensi dan Daya Saing
Stefan Grosch, anggota dewan manajemen Bosch sekaligus direktur hubungan industrial, menegaskan bahwa langkah ini memang pahit namun tidak bisa dihindari.
“Kami perlu meningkatkan daya saing di sektor mobilitas sekaligus memangkas biaya secara permanen. PHK ini sangat berat bagi kami, tapi tidak ada alternatif lain,” ujarnya.

Proses pemangkasan karyawan akan berlangsung bertahap di sejumlah lokasi di Jerman. Bidang yang terdampak meliputi administrasi, penjualan, pengembangan, hingga produksi—area yang dianggap mengalami kelebihan kapasitas akibat permintaan yang menurun.
Proyeksi Pertumbuhan Bosch
Meski sedang melakukan efisiensi besar-besaran, CEO Bosch Stefan Hartung tetap memperkirakan adanya pertumbuhan moderat. Ia memproyeksikan pendapatan Bosch naik sekitar 2% pada 2025, setelah sebelumnya mencatat €90,5 miliar pada 2024.
Sebagai perbandingan, Bosch saat ini mempekerjakan sekitar 418.000 karyawan di seluruh dunia, sehingga PHK 13.000 orang akan berdampak pada sekitar 3% dari total tenaga kerja global.






