PEMALANG, CMI News — Perbedaan pandangan politik dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak kembali memicu persoalan sosial antarwarga. Seorang pedagang bakso di Desa Banjarmulya, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, diduga menjadi korban intimidasi hingga harus diusir dari tempatnya biasa mencari nafkah.

Padahal, sebelum tahapan Pilkades berlangsung, aktivitas usaha di lokasi tersebut berjalan aman dan tanpa kendala. Namun, situasi mendadak berubah setelah tensi politik Pilkades memanas, yang berujung pada pengusiran lantaran dugaan perbedaan dukungan terhadap kandidat calon kepala desa.

Merespons kejadian tersebut, warga setempat bersama masyarakat sekitar kini bergerak bergotong royong melakukan kerja bakti. Mereka membantu membongkar dan membangun kembali warung pedagang bakso tersebut di lokasi yang baru agar ia tetap bisa mengais rezeki. Peristiwa penekanan ini sangat disayangkan oleh warga sekitar karena dinilai merusak iklim demokrasi yang seharusnya berlangsung damai dan bersahabat.

“Kita sudah gembar-gembor bahwa ini pesta demokrasi, tidak boleh ada intimidasi, tidak boleh ada ancaman. Artinya, kebebasan berdemokrasi itu siapapun beda pilihan, itu lumrah,” tegas salah seorang warga di lokasi kegiatan gotong royong.

Masyarakat setempat berharap kejadian intimidasi akibat perbedaan pilihan politik ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya di Desa Banjarmulya. Seluruh elemen warga diajak untuk lebih dewasa dalam berpolitik, menahan diri, serta tidak mengorbankan hubungan bertetangga dan ruang usaha ekonomi seseorang hanya karena beda pilihan di tempat pemungutan suara (TPS).

Menanggapi insiden ini, Forum Center Media Independent (CMI Group) turut mendesak pihak-pihak terkait penyelenggara Pilkades untuk segera memberikan edukasi politik kepada para pelaku dan masyarakat luas.

Edukasi tersebut penting dilakukan demi mewujudkan Pilkades yang sukses, transparan, kondusif, dan damai.