Cikarang, CMI News – Pasar modal Indonesia kembali mendapat tekanan dari aksi jual investor asing. Pada perdagangan Selasa (9/9/2025), net foreign sell tercatat jumbo, mencapai Rp 4,55 triliun. Angka ini merupakan selisih dari total aksi beli asing senilai Rp 7,58 triliun dan aksi jual yang jauh lebih besar, yakni Rp 12,13 triliun.

Namun di tengah derasnya arus keluar modal, asing ternyata masih memburu sejumlah saham unggulan. Beberapa emiten bahkan mencatatkan net buy signifikan, yang menandakan ada potensi optimisme jangka panjang di balik aksi jual masif tersebut.

Saham Incaran Asing

Dari data bursa, Astra International (ASII) menjadi primadona dengan nilai net buy asing mencapai Rp 95,3 miliar. Kucuran dana ini turut mendorong harga saham ASII naik 1,84% ke level Rp 5.525 per saham.

Selain Astra, saham Merdeka Copper Gold (MDKA) juga menarik perhatian investor global dengan net buy Rp 80,8 miliar. Minat asing pada sektor pertambangan ini mencerminkan optimisme terhadap outlook harga komoditas, khususnya tembaga dan emas.

Berikut daftar 10 saham dengan net buy asing terbesar kemarin:

1. PT Astra International Tbk (ASII): Rp 95,3 miliar

2. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rp 80,8 miliar

3. PT Futura Energi Global Tbk (FUTR): Rp 38,8 miliar

4. PT Indika Energy Tbk (INDY): Rp 31,6 miliar

5. PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS): Rp 30,8 miliar

6. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG): Rp 28,7 miliar

7. PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp 27,9 miliar

8. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK): Rp 16,6 miliar

9. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 24,9 miliar

10. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Rp 23,2 miliar

IHSG Terkoreksi Tajam

Meski ada saham yang menjadi buruan asing, secara umum pasar masih berada di tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,78% ke level 7.628,60.

Sebanyak 465 saham tercatat melemah, hanya 222 yang menguat, sementara 118 stagnan. Nilai transaksi relatif tinggi, mencapai Rp 24,85 triliun dengan volume 39,60 miliar saham dalam 2,37 juta kali transaksi.

Dilansir dari Reuters, hampir semua sektor ditutup di zona merah. Pelemahan terdalam dialami sektor properti, utilitas, dan energi, sementara sektor konsumer non-primer dan kesehatan justru masih mampu bertahan di wilayah positif, meski tipis.