Menurut Iris Xu, pendiri Jenga (penyedia jasa korporasi untuk klien China), langkah ini justru merusak kepercayaan investor. “Kalau rekening saja tidak bisa dibuka, di mana mereka bisa berbisnis? Akhirnya dana mereka lari ke Jepang, Hong Kong, dan Dubai,” ujarnya.
Masalah juga muncul di sektor imigrasi. Proses pengajuan permanent residence maupun izin family office kini menuntut pengungkapan data keluarga yang dianggap terlalu invasif oleh sebagian investor.
Hong Kong & Dubai Jadi Alternatif
Kondisi ini dimanfaatkan oleh Hong Kong dan Dubai. Dengan proses KYC (know your customer) yang lebih cepat serta kebijakan tenaga kerja yang fleksibel, kedua wilayah tersebut menjadi magnet baru bagi family office asal China.
Menurut Carman Chan, pendiri Click Ventures, kewajiban perekrutan tenaga kerja lokal di Singapura juga menjadi penghalang. Bahkan untuk family office kecil, kewajiban mempekerjakan pegawai lokal bisa menjadi bottleneck yang sulit diatasi.
“Jika tenaga kerja lokal terbatas, perusahaan tidak bisa begitu saja membawa staf dari luar negeri. Itu memperlambat operasional,” jelas Chan.













