
Cikarang, CMI News – Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kembali terkoreksi pada perdagangan, ditutup melemah 1,61% ke level Rp 1.830 per saham. Penurunan ini menghapus tren positif dua hari sebelumnya, di mana harga saham sempat menguat.
Dalam setahun terakhir, performa saham ADRO memang berada di bawah tekanan. Secara year-to-date (ytd), harga telah turun 24,69%, dan jika dihitung setahun penuh, penurunan mencapai 43,34%.
Meski melemah, minat investor asing tetap ada. Broker JP Morgan Sekuritas Indonesia mencatat aksi beli bersih (net buy) ADRO senilai Rp 12,5 miliar di tengah tekanan harga.
Manajemen ADRO juga aktif melakukan aksi pembelian kembali (buyback) saham.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 12 Agustus 2025, jumlah saham treasuri ADRO mencapai 1,776 miliar lembar atau 5,78% dari total saham beredar. Angka ini naik dari posisi sebelumnya 1,759 miliar lembar (5,72%).

Buyback ini menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap valuasi perseroan, sekaligus cara menjaga harga saham di tengah volatilitas pasar.
Sejumlah sekuritas masih optimistis terhadap prospek ADRO. Pilarmas Investindo Sekuritas, misalnya, menetapkan target harga Rp 2.376 per saham.
Indo Premier Sekuritas bahkan menilai ADRO memiliki potensi kenaikan harga yang belum sepenuhnya tercermin di pasar.
Salah satunya dari proyek panel surya terapung berkapasitas dasar 2 GW. Proyek ini diperkirakan menambah nilai sekitar Rp 535 per saham, sehingga jika dimasukkan ke valuasi penuh, target harga dapat naik ke Rp 2.500 dari sebelumnya Rp 2.300 per saham.
Tantangan dan Sentimen ke Depan
Meski memiliki portofolio energi terbarukan yang menjanjikan, harga saham ADRO tertinggal dibandingkan emiten sejenis seperti TOBA, PGEO, dan BRPT. Sentimen pasar yang masih berhati-hati, ditambah tekanan di sektor batubara global, menjadi faktor yang menahan pergerakan harga.
Ke depan, keberhasilan ADRO dalam merealisasikan proyek energi terbarukan berpotensi menjadi katalis positif, terutama jika pasar mulai menghargai transisi bisnis dari energi fosil ke energi bersih.







