Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor produk yang menggunakan perangkat lunak buatan AS ke China. Langkah ini muncul dua minggu setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pembatasan ekspor atas “seluruh perangkat lunak kritis” yang akan berlaku mulai 1 November.
Kebijakan ini mempertegas kembalinya ketegangan dagang AS–China, yang berpotensi menekan arus perdagangan dan investasi global, termasuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, krisis politik di Washington turut menambah tekanan. Pemerintah AS kembali mengalami shutdown, yang kini memasuki hari ke-22 — menjadi yang terpanjang kedua dalam sejarah negeri itu, setelah rekor shutdown selama hampir lima minggu di era Trump 1.0 pada 2018.
Kebuntuan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik di Kongres membuat rancangan undang-undang pendanaan sementara pemerintah belum disetujui, terutama karena perdebatan mengenai tambahan anggaran layanan kesehatan.













