Si kucing jahat Ke sana kemari mencari sensasi Berbangga diri
Si kucing hitam Jahat dan kejam Terlihat halus, padahal jiwa pendendam Dasar si kucing jahat Kapan kau sekarat?
AdvertisementScroll kebawah untuk lihat kontenAku muak melihat tampangmu Gayamu Palsu Tak tahu diri Tak sadar diri
Si kucing hanya membela perut Mencari aman Dasar penakut
Itulah dia. Si Kucing. Pandai bersembunyi di balik senyum palsu. Pandai berlagak baik di depan orang lain. Maka sejak hari itu, aku memutuskan: aku tidak akan lagi datang ketika dia mengeong.
Semalam, pada malam Jumat Pahing.
Hujan rintik-rintik turun sekitar pukul setengah delapan. Tiba-tiba, petir menyambar tanah tepat di samping tempatku duduk. Aku diam. Aku tahu itu bukan sekadar kebetulan.
Orang tua dulu bilang, petir yang menyambar di sisi kita adalah Petir Penebas Batas. Ia datang bukan untuk mencelakai, melainkan untuk memutus ikatan yang sudah seharusnya putus. Hujan rintik itu terasa seperti air mata yang akhirnya luruh setelah empat puluh tahun terpendam.
Aku mengerti sekarang. Bukan aku yang harus membalas dendam; alam sudah memberikan jawabannya. Biarlah dia belajar bertahan sendiri. Biarlah batu nisan yang nanti menjadi saksi tentang siapa yang benar-benar memiliki hati.
Aku menuliskan semua ini agar dunia tahu. Agar aku sendiri tahu. Aku bukan anjing yang bisa disepak lalu ditinggal pergi. Aku manusia, dan aku punya harga diri.
Malam itu, petir itu menebas batas. Aku bebas.
Tulisan ini adalah nasihat sekaligus pengingat. Sebuah tanda penyelesaian tentang perjalanan hidup yang penuh penghinaan, cacian, serta fitnah. Semoga ini menjadi koreksi diri untuk berhenti; menyudahi semua keadaan dan menerima kenyataan.
Pahit itu ternyata nikmat—ia adalah obat bagi hati yang pernah tersakiti.
TAMAT












