

Pada 9 September 2025, aula Puskesmas Aur Duri, Kota Jambi, menjadi pusat kegiatan pelatihan kader jumantik yang diprakarsai oleh Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKIK Universitas Jambi. Pelatihan ini diselenggarakan sebagai langkah penguatan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang menjadi strategi kunci dalam menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kompetensi kader jumantik dalam mendeteksi, memantau, dan mengendalikan jentik Aedes aegypti—nyamuk utama penyebab penularan DBD.
Pelatihan ini diketuai oleh Fajrina Hidayati, S.K.M., M.KL., dengan dukungan anggota tim yaitu Dr. Guspianto, S.K.M., M.K.M., Dr. Muldiasman, S.K.M., M.K.M., dan Andree Aulia Rahmat, S.K.M., M.KL. Kolaborasi ini juga melibatkan mahasiswa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKIK UNJA, yang turut berkontribusi dalam proses edukasi dan pendampingan teknis di lapangan. Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat sekaligus memperkaya pengalaman mereka dalam aplikasi ilmu kesehatan lingkungan secara nyata.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar dan interaktif. Para peserta yang terdiri dari kader jumantik wilayah Aur Duri mengikuti sesi materi dengan antusias. Materi yang diberikan meliputi pengenalan siklus hidup nyamuk, teknik inspeksi rumah dan pekarangan, cara membaca indeks jentik, hingga metode penyuluhan efektif kepada keluarga dan warga. Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan berupa identifikasi jentik secara langsung, pemanfaatan alat monitoring sederhana, serta simulasi pelaporan temuan jentik menggunakan metode standar puskesmas.
Kader diberikan pemahaman bahwa PSN 3M Plus bukan hanya slogan, tetapi serangkaian tindakan—menguras, menutup, memanfaatkan kembali barang bekas, serta menambahkan langkah tambahan seperti pemberian larvasida, penggunaan kelambu, pemasangan kawat kasa, dan menjaga kebersihan lingkungan. Seluruh materi tersebut penting untuk diterapkan secara rutin agar surveilans jentik berjalan efektif dan angka bebas jentik meningkat signifikan.


Ketua pelaksana, Fajrina Hidayati, S.K.M., M.KL., menegaskan bahwa kegiatan ini disusun berdasarkan kebutuhan nyata lapangan.
“Pelatihan ini kami selenggarakan untuk memastikan kader jumantik memiliki kemampuan yang benar dalam mendeteksi dan mengendalikan jentik di lingkungan. Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan secara rutin sehingga angka bebas jentik di masyarakat semakin meningkat,” ujar Fajrina.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan kader sangat krusial, terutama di wilayah padat penduduk seperti Aur Duri, yang berpotensi tinggi mengalami peningkatan kasus DBD.
Pelatihan ini mendapat apresiasi tinggi dari Koordinator Jumantik wilayah Puskesmas Aur Duri.
“Kami sangat berterima kasih karena pelatihan ini memberikan bekal nyata bagi kader di lapangan. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan akan sangat membantu dalam meningkatkan angka bebas jentik di wilayah kerja kami,” ungkapnya.
Kepala Puskesmas Aur Duri turut mendukung penuh dan berharap pelatihan ini dapat menjadi model pelatihan lintas wilayah.
“Kami mengapresiasi inisiatif para dosen dan mahasiswa UNJA. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan DBD di tingkat masyarakat. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan bisa diperluas ke lingkungan lain yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain meningkatkan kemampuan teknis, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, fasilitas kesehatan tingkat pertama, dan masyarakat. Keterlibatan akademisi memberikan nilai tambah berupa pembaruan ilmu, data berbasis riset, serta model pelatihan yang terstruktur. Sementara itu, kader dan puskesmas memberikan kontribusi berupa pengalaman lapangan dan pemahaman lokal yang menjadi fondasi utama dalam pencegahan DBD.
Melalui kegiatan ini, tim dosen UNJA berharap kader jumantik semakin percaya diri dalam menjalankan tugasnya sebagai garda terdepan pengendalian jentik. Selain itu, diharapkan pula implementasi PSN 3M Plus dapat berjalan konsisten di rumah-rumah warga, sehingga angka kasus DBD di wilayah Aur Duri dan sekitarnya dapat ditekan secara signifikan.

Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan mampu menghasilkan intervensi kesehatan masyarakat yang berdampak nyata. Dengan semangat pemberdayaan dan edukasi berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat, bebas jentik, dan aman dari ancaman DBD.






