“Materi yang diberikan benar-benar relate dengan kehidupan kami sebagai laki-laki. Saya jadi sadar bahwa laki-laki juga boleh merasa lelah dan butuh dukungan. Dampaknya besar sekali, membuat saya lebih siap menghadapi peran sebagai suami dan ayah nanti,” ujar peserta lainnya.

Tim pengabdi berharap kegiatan ini mampu menciptakan output berupa peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai urgensi kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan begitu, mereka tidak hanya siap menikah, tetapi juga siap menjadi ayah yang berdaya—yakni mampu mengelola stres dan menciptakan keluarga yang sejahtera secara mental.
Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang ditujukan kepada siswa sekolah menengah dan mendapat respons positif. Pada tahun ini, sasaran ditingkatkan ke mahasiswa yang lebih dekat dengan masa berumah tangga, sehingga intervensi psikoedukasi menjadi lebih relevan dan berdampak jangka panjang.
Dengan adanya program ini, UNJA berharap dapat melahirkan generasi laki-laki yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga tangguh secara emosional—mewujudkan keluarga yang lebih sehat, harmonis, dan bahagia.














