

Peran ayah dalam keluarga kerap direduksi hanya sebagai pencari nafkah, sementara dimensi emosional, kedekatan dengan anak, dan keterlibatan dalam pengasuhan sering terpinggirkan. Dalam budaya patriarki yang menuntut laki-laki selalu tampak kuat, tekanan mental yang dialami laki-laki justru semakin besar. Kondisi ini menempatkan para ayah pada risiko gangguan kesehatan mental yang serius namun sering tidak disadari.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen Universitas Jambi (UNJA) menginisiasi program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Calon Ayah Berdaya dan Bahagia: Cegah Depresi, Kecemasan, dan Stres dalam Kehidupan Berkeluarga.” Program ini menyasar mahasiswa laki-laki di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat sebagai calon ayah masa depan—kelompok yang berada pada fase transisi menuju kehidupan dewasa dan berkeluarga.
Ketua pelaksana kegiatan, Adelina Fitri, S.K.M., M.Epid., menegaskan bahwa perhatian kesehatan publik selama ini lebih fokus pada ibu dan anak. Padahal, riset terbaru menunjukkan bahwa ayah memiliki kerentanan mental yang tidak kalah besar.
“Studi menunjukkan bahwa para ayah memiliki risiko nyata mengalami depresi, kecemasan, hingga stres pascapersalinan istri. Angka ini lebih tinggi lagi pada ayah yang memiliki bayi dengan kondisi kesehatan khusus, misalnya berat lahir sangat rendah,” ujar Adelina.
Budaya yang menekan laki-laki agar tidak menangis atau menunjukkan emosi juga memperburuk situasi, karena banyak laki-laki akhirnya menahan beban secara diam-diam. Hal ini berdampak pada keharmonisan hubungan suami istri maupun perkembangan anak.


Melalui metode psikoedukasi, tim pengabdi ingin membangun pemahaman baru bahwa menjadi ayah bukan hanya soal memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga hadir secara emosional, menjadi pendidik, pelindung, sekaligus mitra sejajar bagi istri. Hal ini penting mengingat fenomena fatherless—ketidakhadiran ayah secara fisik maupun batin—berdampak serius terhadap perkembangan emosional, perilaku, dan karakter anak.
Program ini tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka ruang dialog, refleksi diri, dan diskusi mendalam antar mahasiswa. Respons peserta menunjukkan adanya perubahan cara pandang yang signifikan.
Salah satu mahasiswa peserta kegiatan mengaku mendapatkan wawasan baru yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
“Selama ini saya pikir tugas ayah hanya mencari nafkah. Tapi setelah ikut kegiatan ini, saya jadi paham bahwa ayah juga harus hadir secara emosional. Saya merasa kegiatan ini sangat membuka pikiran dan berdampak pada cara saya memandang masa depan keluarga saya nanti,” ungkap salah satu mahasiswa.
Mahasiswa lain juga menambahkan bahwa kegiatan ini membantu mereka memahami pentingnya kesehatan mental laki-laki.
“Materi yang diberikan benar-benar relate dengan kehidupan kami sebagai laki-laki. Saya jadi sadar bahwa laki-laki juga boleh merasa lelah dan butuh dukungan. Dampaknya besar sekali, membuat saya lebih siap menghadapi peran sebagai suami dan ayah nanti,” ujar peserta lainnya.

Tim pengabdi berharap kegiatan ini mampu menciptakan output berupa peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai urgensi kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan begitu, mereka tidak hanya siap menikah, tetapi juga siap menjadi ayah yang berdaya—yakni mampu mengelola stres dan menciptakan keluarga yang sejahtera secara mental.
Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang ditujukan kepada siswa sekolah menengah dan mendapat respons positif. Pada tahun ini, sasaran ditingkatkan ke mahasiswa yang lebih dekat dengan masa berumah tangga, sehingga intervensi psikoedukasi menjadi lebih relevan dan berdampak jangka panjang.
Dengan adanya program ini, UNJA berharap dapat melahirkan generasi laki-laki yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga tangguh secara emosional—mewujudkan keluarga yang lebih sehat, harmonis, dan bahagia.






