
CMI News — Lanskap pencarian kerja di Indonesia semakin kompleks. Di tengah ketatnya persaingan tenaga kerja dan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, Indonesia justru mencatat angka penipuan lowongan kerja tertinggi di Asia Pasifik. Temuan ini berasal dari data internal Jobstreet by SEEK yang menunjukkan bahwa jumlah iklan bermasalah di Indonesia bahkan dua kali lebih banyak dibanding Filipina yang menempati posisi kedua.
Situasi ini terjadi ketika pasar kerja nasional sedang menghadapi tantangan signifikan. Per Oktober 2025, pengangguran terbuka mencapai 7,5–7,6 juta orang, atau sekitar 4,8% dari total angkatan kerja. Kondisi ini membuat masyarakat semakin agresif mencari peluang, sementara pelaku penipuan melihatnya sebagai ceruk yang sangat menguntungkan.
Tekanan Ekonomi Bikin Pelamar Rentan Terjebak
Menurut Operations Director Jobstreet by SEEK, Willem Najoan, tingginya angka pengangguran membuka ruang lebih besar bagi para scammer.
“Semakin besar tekanan ekonomi, semakin mudah pelamar kerja yang terdesak tersangkut penipuan. Mereka yang desperate adalah target paling rawan,” ujarnya.

Modus yang digunakan pun makin rapi dan sulit dikenali. Pelaku tidak hanya memanfaatkan kanal formal, tetapi juga menyasar ruang percakapan sehari-hari seperti WhatsApp, Instagram, dan berbagai platform media sosial lain. Banyak korban menyerahkan CV, KTP, hingga data pribadi sensitif tanpa melalui verifikasi apa pun.
Salah satu trik yang paling sering ditemui adalah modus penerimaan instan. Korban diinformasikan bahwa mereka langsung diterima bekerja, namun diminta membayar biaya administrasi, pembuatan seragam, atau ID card secara cepat—biasanya “hari itu juga”.
Data Kepolisian: Korban Banyak, Laporan Minim
Bareskrim Polri mencatat 823 korban penipuan loker dalam periode 2022–2024, dengan kerugian menembus Rp59 miliar. Sementara itu, dalam operasi scam online di Asia Tenggara, 3.239 WNI teridentifikasi terjebak dan 1.132 di antaranya menjadi korban TPPO (tindak pidana perdagangan orang) berkedok penawaran kerja palsu.
Namun, Jobstreet menilai angka ini masih jauh dari kondisi sebenarnya.
“Kami yakin ini hanya puncak gunung es. Banyak korban memilih tidak melapor,” kata Willem.
Mengapa Indonesia Jadi Hotspot Penipuan Loker?
Jobstreet mengidentifikasi tiga faktor utama yang membuat Indonesia begitu rawan terhadap penipuan lowongan kerja:
1. Entry Barrier Pekerjaan yang Rendah
Posisi seperti admin, kasir, operator pabrik, hingga office support memiliki volume pelamar yang besar karena tidak membutuhkan keahlian khusus. Banyaknya pencari kerja membuat kelompok ini menjadi sasaran empuk.
2. Rekrutmen Melalui Media Sosial Tanpa Standar Keamanan
Perusahaan kecil hingga UMKM sering memasang lowongan kerja lewat WhatsApp, Facebook, atau Instagram. Tanpa sistem verifikasi, pelaku mudah menyaru sebagai HR perusahaan dan memancing korban menyerahkan data pribadi.
3. Kondisi Ekonomi yang Mendorong Urgensi Palsu
Tekanan hidup yang meningkat membuat pelamar rentan terhadap “tawaran cepat”. Pelaku kerap menciptakan urgensi palsu:
– “Bayar hari ini atau kesempatan hilang.”
– “Kamu harus daftar sekarang.”
– “Kuota tinggal satu.”
Ketika korban sedang terdesak, narasi seperti itu menjadi jebakan yang sulit ditolak.
Upaya Jobstreet Menghadang Penipuan
Untuk menekan peredaran iklan palsu, Jobstreet memperketat proses verifikasi. Selama periode Juli 2024–Juni 2025, platform ini:
Menolak 3.600 rekrut perusahaan yang tidak lolos verifikasi
Menutup 650 akun karena indikasi penipuan
Menghapus 2.800 lowongan setelah investigasi lebih lanjut
Dari 4,3 juta iklan lowongan yang masuk, semuanya diperiksa secara otomatis dan manual sebelum tayang.
“Kami memindai 100% postingan lowongan yang masuk,” tegas Willem.






