CMI News – Pasar keuangan Asia pagi ini bergerak kompak dalam tekanan. Hampir seluruh mata uang utama kawasan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menciptakan “lautan merah” di perdagangan Selasa (30/9).

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.20 WIB, hanya rupee India yang mampu bertahan—meski penguatannya tipis. Sementara itu, baht Thailand tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia.

Rupiah Ikut Terseret

Baht Thailand melemah 0,28% ke posisi THB 32,28/US$. Disusul won Korea Selatan yang turun 0,21% ke level KRW 1.402,8/US$. Rupiah berada di urutan ketiga dengan pelemahan 0,15% ke Rp16.690/US$, padahal sempat dibuka menguat tipis 0,09%.

Mata uang lain seperti dolar Taiwan (TWD), peso Filipina (PHP), yuan China (CNY), dolar Singapura (SGD), hingga yen Jepang (JPY) juga ikut tertekan. Tekanan berkisar antara 0,05% hingga 0,09%.

Di tengah pelemahan serentak ini, rupee India justru menguat 0,01% ke level INR 88,667/US$. Meski sangat tipis, India menjadi satu-satunya negara Asia yang mampu mencatatkan apresiasi terhadap greenback.

Faktor Pendorong: Dolar AS Menguat Lagi

Penguatan dolar AS tercermin dari indeks dolar (DXY) yang naik 0,09% ke 97,994. Padahal, dua hari sebelumnya indeks sempat melemah. Kenaikan ini tak lepas dari meningkatnya ketidakpastian fiskal di Washington.

Amerika Serikat tengah menghadapi ancaman government shutdown karena belum tercapainya kesepakatan anggaran antara Presiden Donald Trump dan oposisi Partai Demokrat. Jika kebuntuan ini berlanjut hingga 1 Oktober, sejumlah rilis data ekonomi penting diprediksi akan tertunda, termasuk laporan ketenagakerjaan September yang sangat ditunggu pasar.

Dampak ke Pasar Global

Situasi ini menciptakan sinyal risiko baru bagi investor. Data tenaga kerja—mulai dari non-farm payrolls, jumlah lowongan kerja, hingga penggajian sektor swasta—akan menjadi penentu arah ekonomi AS ke depan.

Di sisi lain, komentar Presiden The Fed New York, John Williams, semakin diperhatikan pelaku pasar. Ia menegaskan bahwa tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja menjadi alasan utama pemangkasan suku bunga bulan lalu. Ekspektasi kini mengarah pada pemangkasan tambahan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober, dengan kemungkinan total 42 bps pelonggaran hingga akhir tahun.

Implikasi bagi Rupiah dan Asia

Pelemahan rupiah bersama mayoritas mata uang Asia menunjukkan tingginya sensitivitas kawasan terhadap pergerakan dolar AS dan dinamika kebijakan fiskal serta moneter di Negeri Paman Sam. Ketidakpastian politik AS tidak hanya mengguncang pasar domestik, tetapi juga memperbesar volatilitas global.

Ke depan, investor akan terus mencermati perkembangan negosiasi anggaran di AS dan arah kebijakan The Fed. Bagi Indonesia, tekanan pada rupiah berpotensi memicu respons kebijakan moneter lanjutan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.