CMI News – Rupiah kembali menunjukkan ketahanan di pasar valuta asing setelah beberapa hari sebelumnya sempat tertekan. Pada perdagangan Senin (29/9), mata uang Garuda ditutup menguat 0,36% ke level Rp16.665 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus membawa rupiah kembali berada di bawah level psikologis Rp16.700 per dolar AS.

Menariknya, penguatan ini tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga dorongan sentimen positif dari pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Klarifikasi soal Bunga Valas BUMN

Purbaya menjelaskan, pelemahan rupiah pekan lalu sempat dipicu oleh langkah sejumlah bank BUMN yang menaikkan bunga deposito valas hingga 4%. Kebijakan ini sempat menimbulkan persepsi negatif di pasar, seolah pemerintah mendorong masyarakat untuk lebih banyak memegang dolar ketimbang rupiah.

“Orang mengira kebijakan itu arahan pemerintah. Padahal tidak. Begitu saya luruskan, rupiah langsung kembali ke level wajarnya,” ujar Purbaya.

Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi pasar. Investor menilai pemerintah tetap konsisten menjaga stabilitas rupiah tanpa mendorong langkah yang berpotensi melemahkan kurs.

Kepercayaan Investor Jadi Kunci

Selain meluruskan isu perbankan, Purbaya menegaskan komitmennya untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Ia menekankan, pemerintah berfokus menciptakan iklim investasi yang sehat, terutama di pasar portofolio yang berperan besar dalam menjaga suplai dolar di dalam negeri.

“Saya tidak main-main memperbaiki ekonomi Indonesia. Prospek ekonomi yang baik akan menarik investor untuk ikut menikmati pertumbuhan di sini,” katanya.

Optimisme ini menciptakan sinyal kepercayaan bagi pelaku pasar, terutama investor asing yang tengah mencari destinasi investasi dengan prospek stabil di tengah ketidakpastian global.

Analisis: Sentimen Psikologis Lebih Dominan

Jika ditilik secara fundamental, penguatan rupiah kemarin memang sejalan dengan derasnya aliran modal asing ke pasar saham domestik. Namun, sentimen verbal dari pejabat kunci seperti Menteri Keuangan terbukti memainkan peran signifikan dalam mempercepat pemulihan kurs.

Fenomena ini dikenal sebagai “verbal intervention”—strategi komunikasi yang efektif memengaruhi psikologi pasar. Dengan klarifikasi yang jelas, investor kembali menilai rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya.