Saat dirawat ibu saya nangis di samping saya, saya tahu itu tangisan Ibu, saya tahu itu tangisan ayah. Saya cuman mata sudah nggak bisa buka,
Berharap saya masih bisa menggerakkan tangan, untuk menggenggam tangan Ibu ” Saya mau bilang sekata pun enggak bisa, dan Saya dengar suara Orang waktu itu, (” Kamu ke sini”).

Ternyata, Gading Masuk Di Alam Ghaib
Saat itu, tempatnya semacam ruang terbuka ada pohon juga pohonnya nggak ada daunnya.
Hanya ada satu sumur di situ buat minumnya jadi minum udah nggak di kelas minum itu ngambil dari sumurnya langsung disuguhkan dan di situ saya nggak pernah lihat matahari.
Suasananya sore malam suasananya sama ada siang ada malam nggak ada samar jadi seperti mau magrib redup, ketika mau petang aja saya ngelihat sosok seperti saya sosok (manusia) dan dia nangis di pojokan.
Kemudian saya datangi dia saya tanya siapa kamu saya melihat wajahnya saya ingat lagi, ini teman saya ini namanya si Supriadi.
Supriyadi itu satu kerjaan dengan saya cuma kita kadang beda sift, saya nanya ke dia kenapa kamu di sini seinget Supriyadi waktu itu pengen bayarin kambing karena satu minggu lagi mau nikah itu penuturan dari si Supriyadi, Imbuh Gading.
Lebih lanjut Gading menceritakan apa yang di ceritakan Supriyadi, ” Saya mau menikah saya minta izin sama bos dan minta bon untuk genapin bayar kambing 1,5jt waktu itu.
Supriyadi mengatakan kalau dia tiba tiba dikasih sama bosnya itu 4 juta, saya cuman mau kasbon Rp. 1.500.000 kenapa dikasihnya 4 juta, ” Nggak papa ini buat kamu” Kata Bosnya.
Disana Supriyadi pun mengatakan akan menganti uang tersebut kepada si Bos, tetapi tidak boleh. Kemudian Supriyadi pinjam motor untuk menuju lokasi kambing yang akan di belinya.
Saat sore sekitar jam 16.00 sore, Supri pun bertujuan untuk berangkat kerja Sift sore. Saat menuju motor, mesin belum dinyalakan dia baru pegang itu dia langsung seperti orang kesetrum.
Jatuhlah dia sama kejadiannya, persis sama kejadiannya seperti apa yang saya alami saat terbentur kepalanya.
Di tempat alam itu, saya berpikir kok banyak orang laki-laki dan masih seumuran dengan saya. Ada apa, tanya Gading ?
Disana juga gak ada orang tua yang lewat enggak pernah ada ibu-ibu, yang ada semuanya laki-laki perjaka umur di bawah 25 tahun.
Apa mereka ini yang melakukan kesalahan atau tumbal, bisa dikatakan seperti sebagai tumbal. Salah satu contoh seperti Supriyadi, yang udah menerima uaang.
Berbeda dengan kasusnya saya, kalau saya belum menerima uang saya cuman bekerja di situ sebagai kernet yang mengambil barang terusan saya setorin ke bos saya di situ cuman waktu itu memang saya belum menikah umur saya waktu itu masih 21 tahun. Ungkap Gading
Di Alam Ghaib Mie Instan Sebesar Jari Jempol Tangan
Sama seperti di alam kita ada waktu makan cuman setelah makan kita dipekerjakan, cara mengantarkan makanan ada dua orang badannya tinggi besar kaki kecil tinggi panjang dari batas pinggang atas dia besar sekali itu wujudnya.
Disana dipaksa kami makan menunya sama menunya sama dari hari ke hari saya sempat makan tiga kali, waktu saya makan di situ yang disuguhkan pun sama mie tetapi ini mie segede jempol tangannya segede jempol tangan dan itu sama sekali nggak ada rasa.
Disana kita bekerja yang dikerjakan buat menggali sumur jadi di situ ada sumur, setiap harinya digali sudah diambil airnya Karena airnya tuh setiap diambil kering.












