JAKARTA – Kawasan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat kembali menjadi sorotan publik setelah insiden tragis yang menimpa Arya Daru Pangayunan, seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Ia ditemukan tak bernyawa secara tidak wajar di kamar kosnya pada Selasa pagi, 8 Juli 2025.
Ironisnya, lokasi penemuan jasad Daru berada di kompleks yang sama dengan toko bernama Rumah Tua Vape, tempat yang pada tahun 2017 silam juga pernah menjadi lokasi pengeroyokan yang berujung maut.
Arya Daru, diplomat berusia 39 tahun, ditemukan dalam kondisi mengenaskan di kamar kos nomor 105, Guest House Gondia. Wajah dan kepalanya terlilit lakban serta dibungkus plastik, sementara tubuhnya tertutup selimut di atas kasur. Kos tersebut berada tepat di samping toko vape yang dikenal masyarakat sekitar sebagai Rumah Tua Vape.
Penemuan jasad ini seketika memunculkan kembali memori kelam delapan tahun silam, saat toko yang sama menjadi lokasi pengeroyokan terhadap seorang pemuda bernama Abi Qowi Suparto.
Penyelidikan Masih Berjalan, Sorotan Mengarah pada Riwayat Lokasi
Polres Jakarta Pusat bersama Pusat Identifikasi Mabes Polri segera bergerak cepat. Dua unit CCTV telah diamankan, barang bukti disisir, dan lima saksi telah diperiksa. Mereka termasuk istri korban, penjaga kos, dan tetangga. Hingga kini, belum ada penetapan tersangka. Hasil visum dan forensik menjadi kunci utama untuk mengungkap tabir penyebab kematian Arya Daru.
Pada tahun 2017, toko Rumah Tua Vape menjadi lokasi pengeroyokan terhadap Abi Qowi Suparto. Pemuda tersebut dituduh mencuri dan dikeroyok oleh sekelompok orang di dalam toko. Abi Qowi akhirnya meninggal dunia tiga hari kemudian di rumah sakit. Empat orang ditetapkan sebagai tersangka kala itu, termasuk pemilik toko dan beberapa pegawai, sementara tiga lainnya menjadi buronan.
Dua Nyawa Melayang, Satu Lokasi: Kebetulan atau Pola?
Dua kejadian tragis dalam kurun waktu delapan tahun di lokasi yang sama memunculkan pertanyaan besar dari masyarakat. Apakah ini semata kebetulan, atau ada masalah keamanan dan pengawasan yang lalai di kawasan tersebut? Ketua RT setempat, Irawan, hanya memberikan pernyataan singkat, “Kami sedang serahkan semuanya ke pihak kepolisian. Wilayah ini memang tenang, tapi dua kejadian ini membuat kami semua resah.”
Tanggapan Warga dan Pemerhati Keamanan Publik
Aktivis HAM dan keamanan publik mendesak aparat untuk serius menelusuri akar penyebab tragedi ini. “Kita harus belajar dari insiden masa lalu. Ketika tempat yang sama kembali memakan korban, ini bukan sekadar insiden, ini peringatan,” ujar N. Darmawan, pengamat keamanan lingkungan.
Meskipun Pihak Kepolisian dan Kementerian Luar Negeri belum memberikan informasi final terkait motif kematian Arya Daru, rekam jejak kejadian tahun 2017 menuntut transparansi dan pengungkapan tuntas. Publik berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kos dan toko di kawasan Rumah Tua Vape demi mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.














