Seorang orangtua siswa, yang tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan keberatannya. “Kami setuju dengan tujuan kegiatan ini untuk pendidikan anak, tetapi biaya seperti ini terlalu besar bagi kami. Pengeluaran untuk kebutuhan sekolah saja sudah cukup banyak,” ujarnya.
Respons Masyarakat dan Ormas
Kritik juga datang dari organisasi masyarakat. Ketua Ormas 234 SC Pemalang, Yogo Darminto, S.H., mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini seharusnya tidak menjadi beban tambahan bagi orangtua. Ia menyarankan agar pemerintah daerah mencari solusi alternatif.
“Pemerintah daerah seharusnya bisa memberikan subsidi atau memanfaatkan fasilitas sekolah untuk memutar film, sehingga siswa tetap mendapatkan manfaat pendidikan karakter tanpa biaya tambahan,” tutur Yogo.
Dengan demikian, langkah penghentian kegiatan nobar menjadi solusi sementara yang diharapkan dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat sekaligus tetap menjaga esensi dari pendidikan karakter bagi para siswa.















