Cikarang, CMI News – Harga batu bara global kembali menguat pada perdagangan Selasa (29/7/2025), seiring dengan lonjakan permintaan listrik di kawasan Asia yang tengah menghadapi musim panas ekstrem.
Kondisi ini mendorong konsumsi energi, terutama dari pembangkit listrik berbasis batu bara naik signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Harga kontrak batu bara Newcastle, yang menjadi acuan pasar Asia, tercatat stagnan di US$115,5 per ton untuk pengiriman Agustus 2025. Namun, harga untuk bulan berikutnya mulai menunjukkan tren kenaikan: kontrak September naik US$0,5 menjadi US$118 per ton, sementara kontrak Oktober terdongkrak US$0,35 ke US$119,6 per ton.
Kenaikan harga juga terjadi di pasar Eropa. Harga batu bara Rotterdam untuk pengiriman Agustus tercatat melonjak US$1,7 ke posisi US$105,1 per ton, sementara kontrak September dan Oktober masing-masing naik US$2 dan US$2,2, menjadi US$106,4 dan US$107,4 per ton.
Cuaca Panas Picu Lonjakan Konsumsi Energi
Menurut laporan Reuters, lonjakan harga batu bara ini menandai level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Hal tersebut dipicu oleh peningkatan permintaan listrik di berbagai negara Asia akibat gelombang panas yang belum mereda. Kebutuhan akan sistem pendingin udara meningkat drastis, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat kepadatan tinggi.
Salah satu indikator utama berasal dari Jepang, di mana pembangkit listrik tenaga batu bara di Tokyo mencatatkan output tertinggi dalam 10 bulan terakhir pada Jumat lalu. Hal ini terjadi seiring suhu udara yang berada di atas rata-rata musiman. Jepang, sebagai salah satu importir utama batu bara Australia, turut menyumbang tekanan permintaan di pasar regional.
Dampak Terhadap Pasar dan Proyeksi Jangka Pendek
Kenaikan harga batu bara ini memberikan sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa tekanan permintaan musiman tetap menjadi pendorong utama harga komoditas energi di paruh kedua 2025. Selain faktor cuaca, beberapa analis juga mencermati ketatnya pasokan di tengah penyesuaian produksi di beberapa negara eksportir utama.
Bagi negara-negara pengimpor batu bara seperti Jepang, Korea Selatan, dan sebagian wilayah China, lonjakan harga ini berpotensi menekan biaya energi. Sementara bagi negara eksportir seperti Indonesia dan Australia, tren ini bisa menjadi peluang untuk mengoptimalkan ekspor komoditas di tengah volatilitas pasar energi global.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















