Cikarang, CMI News – Harga emas dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Rabu (30/7/2025), di tengah dinamika pasar yang terus mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Sentimen positif datang dari turunnya imbal hasil obligasi (Treasury yield) dan melemahnya dolar AS, dua faktor yang kerap menjadi penopang harga emas.
Harga emas spot tercatat naik 0,05% ke US$3.328,27 per ons troi, sementara kontrak berjangka emas di bursa COMEX juga menguat 0,1% ke level US$3.326,90 per ons.
Yield Turun, Dolar Melemah: Sinyal Potensi Dovish?
Menurut Kelvin Wong, analis pasar senior OANDA, pelemahan imbal hasil obligasi menunjukkan ekspektasi pasar bahwa The Fed mungkin mulai memberi sinyal perubahan arah kebijakan—dari hawkish menuju lebih dovish.
“Turunnya yield Treasury dan meredanya penguatan dolar AS membuat emas kembali menarik di mata investor,” ujar Wong, dikutip dari Reuters.
Indeks dolar AS sendiri terkoreksi dari level tertingginya dalam sebulan terakhir. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merosot mendekati titik terendah dalam satu bulan terakhir—kondisi yang secara historis memberikan dorongan positif bagi harga emas.
Fokus Pasar: The Fed dan Data Ekonomi AS
Meskipun Presiden AS Donald Trump kembali mendorong penurunan suku bunga, The Fed diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan kali ini. Namun, pasar tidak menutup kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga pada pertemuan bulan September mendatang.
Kondisi suku bunga rendah menjadi katalis penting bagi emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia.
Wong menambahkan, jika harga emas berhasil menembus level US$3.350 per ons dalam waktu dekat, terutama menjelang rilis data inflasi dan ketenagakerjaan AS, tren penguatan jangka pendek emas bisa kembali menguat.
Sentimen Tambahan: AS-China dan Proyeksi IMF
Dari sisi geopolitik, AS dan China sepakat memperpanjang gencatan senjata tarif selama 90 hari hingga 12 Agustus, setelah dua hari perundingan di Stockholm. Meski keputusan akhir ada di tangan Presiden Trump, kesepakatan ini memberikan sedikit stabilitas di tengah ketidakpastian perdagangan global.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2025 dan 2026. Revisi ini dipicu oleh peningkatan aktivitas perdagangan menjelang diberlakukannya tarif baru AS, serta penyesuaian tarif efektif AS dari 24,4% menjadi 17,3%.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Perak turun tipis 0,1% ke US$38,14 per ons
Platinum melemah 0,6% ke US$1.386,31 per ons
Palladium naik 0,4% menjadi US$1.262,99 per ons
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















