Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Peristiwa

Dibalik Sosok ‘Anak Ceria’ yang Menjadi Pelaku Parisida: Luka Terpendam yang Tak Terbaca

×

Dibalik Sosok ‘Anak Ceria’ yang Menjadi Pelaku Parisida: Luka Terpendam yang Tak Terbaca

Sebarkan artikel ini
Dibalik Sosok 'Anak Ceria' yang Menjadi Pelaku Parisida: Luka Terpendam yang Tak Terbaca

Mengapa Mereka Terlihat “Ceria”?

Publik sering kali salah kaprah dengan menganggap pelaku pembunuhan harus terlihat depresi atau beringas. Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, mencatat bahwa pelaku seperti Al tetap menunjukkan keceriaan. Ada dua kemungkinan psikologis di baliknya:

  1. Disosiasi (Mati Rasa): Otak anak melakukan mekanisme pertahanan dengan memisahkan diri dari realitas yang mengerikan. Mereka tampak tenang karena mental mereka “mati rasa” untuk melindungi diri dari kegilaan.

    Advertisement
    Scroll kebawah untuk lihat konten
  2. Rasa Lega yang Tragis: Bagi anak yang hidup di bawah bayang-bayang kekerasan selama bertahun-tahun, hilangnya sang “penyiksa” membawa perasaan lega yang tidak disadari. Keceriaan itu bukan karena mereka menikmati kematian, melainkan karena rasa takut yang selama ini mencekik mereka tiba-tiba hilang.

Rumah yang Menjadi Medan Perang

Status sosial tidak menjamin kesehatan mental keluarga. Korban dalam kasus Medan adalah seorang dosen, dan pelakunya adalah mahasiswa teknik komputer. Ini membuktikan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa terjadi di mana saja, termasuk di keluarga berpendidikan tinggi.

KPAI mengidentifikasi empat faktor utama pendorong parisida:





error: