Kasus tragis yang melibatkan OK (18), seorang mahasiswa di Medan, dan Al (12), seorang siswi SD di Labuhan Batu Utara, menyentak kesadaran publik. Keduanya melakukan tindakan serupa: menghabisi nyawa orang tua kandung. Dalam kriminologi, fenomena ini disebut parisida—sebuah tindakan yang dianggap melawan fitrah manusia, namun menyimpan kompleksitas trauma yang luar biasa.
Salah satu temuan paling mengejutkan dari pendampingan KPAI adalah bagaimana para pelaku ini, terutama Al, tampak “ceria” dan berperilaku seperti anak-anak normal lainnya pasca-kejadian. Mengapa sosok yang terlihat baik-baik saja bisa menyimpan daya ledak sedahsyat itu?
Bom Waktu yang Bernama Trauma Akumulatif
Parisida jarang sekali terjadi karena satu pemantik tunggal. Dalam kasus OK, motif “sakit hati” muncul dari sejarah penganiayaan panjang yang ia terima dari ayahnya. Begitu pula dengan Al, yang diduga bertindak karena ingin melindungi kakak dan ayahnya dari kemarahan sang ibu.
Psikolog sering menyebut ini sebagai trauma kumulatif. Anak-anak ini hidup dalam lingkungan “siaga satu” setiap hari. Ketika mereka melihat kekerasan fisik terjadi di depan mata—seperti OK yang melihat ibunya dipukuli—akal sehat mereka terkunci oleh insting bertahan hidup (survival mode). Pada titik ini, membunuh bukan lagi tentang kejahatan, melainkan upaya terakhir untuk menghentikan penderitaan.












