Peran ayah dalam keluarga kerap direduksi hanya sebagai pencari nafkah, sementara dimensi emosional, kedekatan dengan anak, dan keterlibatan dalam pengasuhan sering terpinggirkan. Dalam budaya patriarki yang menuntut laki-laki selalu tampak kuat, tekanan mental yang dialami laki-laki justru semakin besar. Kondisi ini menempatkan para ayah pada risiko gangguan kesehatan mental yang serius namun sering tidak disadari.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen Universitas Jambi (UNJA) menginisiasi program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Calon Ayah Berdaya dan Bahagia: Cegah Depresi, Kecemasan, dan Stres dalam Kehidupan Berkeluarga.” Program ini menyasar mahasiswa laki-laki di Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat sebagai calon ayah masa depan—kelompok yang berada pada fase transisi menuju kehidupan dewasa dan berkeluarga.
Ketua pelaksana kegiatan, Adelina Fitri, S.K.M., M.Epid., menegaskan bahwa perhatian kesehatan publik selama ini lebih fokus pada ibu dan anak. Padahal, riset terbaru menunjukkan bahwa ayah memiliki kerentanan mental yang tidak kalah besar.














