Malwarebytes mencatat, pelaku sering berpura-pura seolah pernah bertemu dengan korban sebelumnya. Salah satu contoh pesan yang mereka temukan berbunyi:
“Hai, aku menemukan kontakmu di daftar kontakku. Bisa ingatkan kita pernah ngobrol di mana?”
Strategi ini sengaja dirancang agar korban merasa perlu menjawab dan memperpanjang percakapan. Begitu terjadi, pelaku mulai mengumpulkan informasi pribadi—mulai dari nama lengkap, waktu aktif online, gaya komunikasi, hingga nomor telepon. Semua data itu kemudian dijadikan profil target yang dapat dijual atau digunakan dalam aksi penipuan berikutnya.
Nomor Aktif Jadi Sasaran, Hindari Balas Pesan Asing
Pakar keamanan siber Malwarebytes menegaskan bahwa jangan pernah membalas pesan mencurigakan, sekalipun hanya untuk mengatakan “salah kirim”. Tindakan kecil ini menandakan bahwa nomor Anda aktif, yang berarti berpotensi masuk ke dalam daftar target penipuan atau bahkan dijual di pasar gelap data.
Selain itu, korban yang membalas pesan bisa tanpa sadar membuka celah bagi pelaku untuk mengirim tautan berbahaya, mengakses data pribadi, hingga melancarkan upaya peretasan akun finansial.













