Ia juga menyoroti dampak jarak tempuh yang menjadi lebih jauh bagi pengguna yang selama ini mengandalkan akses selatan.
“Kalau parkir di selatan tapi aksesnya ditutup, akhirnya harus muter jauh. Itu justru bikin repot penumpang,” katanya.
Mamat berharap pemerintah daerah dan PT KAI tidak hanya fokus pada pembatasan akses, tetapi juga menyiapkan solusi menyeluruh, khususnya terkait penataan parkir. Menurutnya, penyediaan lahan parkir yang memadai, aman, dan terjangkau akan jauh lebih efektif untuk mengurangi parkir liar dan kemacetan.
Keluhan senada disampaikan Duta (31), pengguna KRL lainnya. Ia menilai pintu selatan masih menjadi akses vital bagi banyak penumpang, termasuk pengendara sepeda motor dan penjemput.













