“Karena bordernya ditutup dulu tuh, dari situ. Karena pintu masuknya dari situ. Kalau itu nggak ditutup, sampai kapanpun akhirnya ini masuk terus,” tegasnya.
Pihaknya kini tengah memperkuat koordinasi lintas kementerian, terutama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), untuk membentuk tim khusus yang menangani isu impor.
“Respons dari Kemendag juga positif. Nanti kita mungkin akan membuat tim terkait isu-isu barang impor ini,” jelas Maman.
UMKM Terpukul Banjir Barang Impor
Maman mengungkapkan bahwa dampak banjir barang impor terasa nyata di lapangan. Salah satu contohnya terlihat di sentra kerajinan tas Tajur, Bogor, yang kini nyaris mati suri akibat produk luar membanjiri pasar.
“Sekarang di Tajur itu dari 40 toko, tinggal 3 toko. Itu baru dari sisi produk tas, belum produk-produk lain,” ungkapnya prihatin.













