TASIKMALAYA — Pakar metafisika Nusantara sekaligus pengamat sosial, lingkungan, dan sekaligus penguusaha peternakan ayam kampung di Tasikmalaya menyoroti dinamika harga komoditas unggas yang ia nilai kian tidak masuk akal. Berdasarkan pengamatan langsung dan pengalamannya mengelola peternakan di lapangan, Mbah Gareng menilai bahwa fluktuasi harga saat ini mencerminkan kekacauan tata kelola pasar serta ketidakseimbangan rantai pasok dari tingkat peternak hingga pedagang eceran.

Mbah Gareng mengambil contoh konkret pada pergerakan harga ayam kampung. Secara kalkulasi ekonomi dan durasi pemeliharaan, selisih harga ayam kampung idealnya berada jauh di atas harga ayam ras pedaging (broiler). Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan kondisi sebaliknya: harga ayam kampung malah anjlok drastis dan merugikan para peternak lokal.

Menurut Mbah Gareng, fenomena carut-marut ini pemicunya bukan tanpa alasan, melainkan berasal dari beberapa faktor utama:

1. Gelombang FOMO Peternak Rumahan

Maraknya tren ikut-ikutan (Fear of Missing Out atau FOMO) di masyarakat untuk membuka usaha peternakan ayam kampung skala rumahan tanpa peta pemasaran yang matang memicu oversuplai di tingkat lokal. Banjirnya pasokan hasil panen skala kecil ini memicu persaingan tidak sehat dan merusak kestabilan harga acuan di tingkat peternak.

2. Permainan Harga oleh Oknum Tengkulak dan Reseller

Mbah Gareng membeberkan indikasi kuat adanya permainan harga oleh oknum pedagang pasar dan tengkulak yang bertindak sebagai reseller. Oknum-oknum ini sengaja memanfaatkan situasi dengan membeli hasil panen dari peternak dengan harga semurah mungkin demi meraup keuntungan sepihak, sehingga memperkeruh rantai distribusi.

3. Pengkaburan Kategori Ayam Pejantan

Kondisi pasar kian tidak menentu akibat ulah sebagian oknum yang menjual ayam pejantan (layer jantan) dengan harga sangat murah, lalu mengategori serta mengklaimnya seolah-olah sebagai ayam kampung asli. Praktek manipulatif ini tidak hanya menyesatkan konsumen, tetapi juga merusak standar harga pasar ayam kampung murni.

Langkah Strategis dan Solusi bagi Peternak

Menghadapi tantangan pasar yang kian kompetitif ini, Mbah Gareng mengimbau seluruh pelaku usaha peternakan ayam kampung—baik yang berfokus pada skala pembesaran maupun peternakan terintegrasi (integrated farming)—untuk segera mengambil tindakan nyata:

 Memperkuat Soliditas dan Kekompakan: Para peternak harus merapatkan barisan melalui komunitas dan asosiasi guna menyelaraskan harga acuan panen. Soliditas ini penting agar oknum pedagang atau tengkulak nakal tidak lagi dapat menekan dan memanfaatkan posisi tawar peternak yang terpecah.

 Inovasi Pemasaran dan Produk Bernilai Tambah: Peternak perlu beralih dari sekadar menjual ayam hidup (livebird). Mbah Gareng mendorong para pelaku usaha untuk mengeksplorasi strategi pemasaran kreatif, seperti mengolah produk menjadi ayam kampung kemasan higienis, produk siap saji, hingga olahan beku (frozen food) yang memiliki daya simpan lebih lama dan nilai jual yang lebih tinggi.

Dengan menjaga soliditas internal serta mengadopsi cara-cara pemasaran modern, para peternak ayam kampung diharapkan mampu merebut kembali kendali harga pasar dan melindungi usaha mereka dari permainan oknum yang merugikan.