Aksi jual besar-besaran investor asing ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini sinyal profit taking atau indikasi pergeseran strategi investasi?
Sejumlah analis menilai, aksi lepas saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA kemungkinan merupakan bagian dari portfolio rebalancing. Investor global cenderung berhati-hati di tengah ketidakpastian eksternal, termasuk tekanan geopolitik dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Saham sektor digital dan energi seperti WIFI serta ENRG juga ikut terkena imbas. Padahal, sektor-sektor ini sebelumnya sempat menjadi primadona karena prospek pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu, tekanan jual pada saham ritel seperti AMRT bisa jadi disebabkan oleh rotasi ke saham-saham berbasis komoditas atau infrastruktur yang dinilai lebih defensif dalam kondisi pasar yang tidak pasti.
Prospek IHSG ke Depan
Meski investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati, analis memprediksi IHSG berpotensi bergerak stabil dalam jangka menengah, dengan dukungan dari fundamental ekonomi domestik yang kuat dan optimisme kinerja emiten kuartal IV-2025.
Kunci utama bagi pemulihan pasar adalah stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta arah arus modal asing menjelang akhir tahun fiskal.













