Cikarang, CMI News — Harga batu bara global kembali melemah seiring penurunan tajam impor batu bara oleh Chinaโnegara konsumen sekaligus importir batu bara terbesar di dunia.
Data terbaru menunjukkan bahwa permintaan dari Negeri Tirai Bambu melambat signifikan di tengah meningkatnya pasokan domestik dan lesunya aktivitas industri.
Pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2025, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Juli 2025 turun sebesar US$0,9 menjadi US$111,1 per ton.
Tekanan berlanjut di kontrak Agustus yang melemah US$1,2 ke level US$113,9 per ton, sementara kontrak September merosot lebih dalam sebesar US$1,9 ke posisi US$114,1 per ton.
Kondisi serupa juga tercermin pada pasar batu bara Rotterdam. Harga kontrak Juli terkoreksi US$2,15 menjadi US$106,6 per ton, Agustus jatuh US$3,45 ke US$106,75, dan September terkikis US$3,55 menjadi US$107,15 per ton.
Tekanan Datang dari China
Sumber tekanan utama datang dari China. Berdasarkan data resmi Administrasi Umum Kepabeanan China yang dikutip oilprice.com, impor batu bara negara tersebut pada Juni 2025 hanya mencapai 33,04 juta ton.
Angka ini merosot 26% secara tahunan (year-on-year) dan turun 8% dibanding bulan sebelumnya.
Secara historis, volume impor Juni 2025 ini merupakan yang terendah sejak Februari 2023.
Bahkan jika ditarik sepanjang semester I-2025, total impor batu bara China hanya mencapai 221,7 juta tonโturun 11% dari periode yang sama tahun lalu.
Li Xuegang, Wakil Presiden China Coal Transportation and Distribution Association, memproyeksikan bahwa total impor batu bara China sepanjang 2025 akan anjlok antara 50 hingga 100 juta ton dibandingkan tahun 2024.
Jika estimasi ini terealisasi, maka penurunan bisa mencapai hingga 18,4% secara tahunan.
Apa yang Menyebabkan Penurunan?
Penurunan tajam ini bukan tanpa sebab. Krisis berkepanjangan di sektor properti serta perlambatan aktivitas manufaktur membuat kebutuhan energi dari industri menurun.
Di sisi lain, produksi batu bara dalam negeri China justru mencapai rekor tertinggi selama periode JanuariโMei 2025 dan diperkirakan naik 5% sepanjang tahun ini.
Lonjakan produksi dalam negeri otomatis menciptakan kelebihan pasokan.
Hal ini mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk memangkas impor, bahkan mulai melakukan ekspor batu bara ke negara lain. Fenomena ini membuat pasar global dibanjiri batu bara murah.
โDengan harga domestik yang rendah, permintaan listrik yang stagnan, dan stok pelabuhan yang masih tinggi, tren penurunan impor sebenarnya sudah diperkirakan sejak awal tahun,โ tulis seorang analis pasar batu bara dalam laporannya.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















