Cikarang, CMI News — Harga emas global kembali mencatatkan kenaikan tajam pada perdagangan Selasa (22/7/2025), menembus level tertinggi dalam lima pekan terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Berdasarkan data yang dikutip dari Reuters, harga spot emas menguat 1,01% ke level US$ 3.431,48 per ons—tertinggi sejak 16 Juni. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman terdekat naik 1,1% ke posisi US$ 3.443,70 per ons.
Aset Safe Haven Kembali Jadi Incaran
Ketidakpastian global yang dipicu oleh tenggat tarif baru dari Presiden AS Donald Trump, yang dijadwalkan berlaku mulai 1 Agustus, mendorong investor mencari perlindungan pada aset yang dianggap aman, seperti emas.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa kegagalan Amerika Serikat untuk mencapai progres konkret dalam sejumlah negosiasi dagang, terutama dengan Uni Eropa, turut memperkuat permintaan terhadap emas.
“Ketidakpastian seputar agenda dagang AS menciptakan tekanan yang signifikan di pasar, dan ini membuat investor lebih nyaman memegang emas,” ujarnya.
Imbal Hasil Obligasi AS Melemah, Harga Emas Terangkat
Selain faktor geopolitik dan tarif, turunnya imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level terendah dalam dua pekan juga berkontribusi terhadap kenaikan harga emas. Kondisi ini mengurangi opportunity cost dalam memegang aset non-yielding seperti emas, sehingga memperbesar daya tariknya.
Ketegangan AS-China dan Uni Eropa Terus Bergulir
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan akan bertemu dengan pejabat China pekan depan. Ia juga menyatakan adanya kemungkinan perpanjangan tenggat waktu tarif hingga 12 Agustus. Namun di sisi lain, Uni Eropa justru menyiapkan langkah balasan yang lebih luas jika negosiasi gagal menemui titik temu.
Dengan dinamika ini, pasar mulai memperkirakan bahwa eskalasi dagang bisa berlangsung lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.
Sentimen The Fed Jadi Perhatian Pelaku Pasar
Menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan, pelaku pasar mulai melakukan reposisi. Meski suku bunga diperkirakan masih akan bertahan, namun muncul ekspektasi pemangkasan suku bunga pada Oktober. Jika skenario ini terwujud, harga emas berpotensi mendapatkan dorongan tambahan.
Analis komoditas dari Reliance Securities, Jigar Trivedi, menyebut bahwa secara teknikal, emas masih berada dalam tren bullish. Ia memproyeksikan area resistensi kuat berada di sekitar US$ 3.420 per ons, sementara level support utama diperkirakan berada di kisaran US$ 3.350 per ons.
Logam Mulia Lainnya Bergerak Variatif
Harga perak juga turut menguat sebesar 0,6% ke level US$ 39,16 per ons, sedangkan palladium mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 1,4% ke US$ 1.282,82. Namun, harga platinum justru terkoreksi 0,5% dan berada di level US$ 1.431,64 per ons.
















