Katalis utama datang dari pelemahan pasar tenaga kerja AS, yang ditunjukkan oleh kenaikan klaim pengangguran dan revisi data yang memangkas 911 ribu lapangan kerja. Data ini memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17 September mendatang.
Meski inflasi konsumen AS justru mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam tujuh bulan, investor lebih fokus pada ancaman perlambatan ekonomi. Kondisi ini membuat emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai (safe haven).
“Pelemahan tenaga kerja dan inflasi yang tidak stabil sudah diperhitungkan pasar. The Fed dipaksa memangkas suku bunga, sehingga mendorong harga logam mulia naik karena ada risiko inflasi jangka panjang,” ujar Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist RJO Futures, dikutip dari Reuters.
Aliran Dana Masuk ETF Menguatkan Reli
Selain faktor suku bunga, kenaikan harga emas juga didorong oleh meningkatnya aliran dana ke Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis emas. Investor global semakin agresif mengamankan portofolio mereka dari risiko ketidakpastian.













