Cikarang, CMI News — Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis (17/7/2025).
Pelemahan ini terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar yang menanti rilis data penting terkait ekspor dan produksi CPO Malaysia untuk periode Juli 2025.
Berdasarkan data BMD, kontrak berjangka CPO pengiriman Agustus 2025 tercatat turun 20 ringgit menjadi 4.138 ringgit per ton. Adapun kontrak untuk pengiriman September 2025 juga terkoreksi 18 ringgit ke posisi 4.180 ringgit per ton.
Tekanan juga terjadi pada kontrak-kontrak bulan berikutnya:
Oktober 2025: turun 14 ringgit ke 4.210 ringgit per ton
November 2025: turun 16 ringgit ke 4.217 ringgit per ton
Desember 2025: melemah 20 ringgit ke 4.213 ringgit per ton
Januari 2026: terkoreksi 27 ringgit menjadi 4.205 ringgit per ton
Pasar Menanti Katalis Fundamental
Koreksi harga ini mencerminkan sikap berhati-hati pasar menjelang publikasi data ekspor dan produksi CPO Malaysia pada pekan depan. Dua indikator utama yang tengah dinanti adalah estimasi ekspor dari cargo surveyor dan angka produksi dari Malaysian Palm Oil Association (MPOA).
โPasar saat ini cenderung menunggu katalis baru. Angka ekspor dan produksi akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya,โ ujar Dr. Sathia Varqa, analis senior dari Fastmarkets Palm Oil Analytics, dikutip dari Bernama.
Menurut Varqa, pasar terlihat tidak punya arah jelas pada sesi perdagangan hari ini. โSetelah dua hari yang cukup volatil, pergerakan harga CPO saat ini relatif flat. Harga sempat bergerak naik-turun di awal sesi, namun akhirnya ditutup melemah,โ jelasnya.
Tren penurunan harga CPO dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap data fundamental, khususnya dari Malaysia sebagai salah satu produsen utama.
Meskipun permintaan global tetap tinggi, fluktuasi jangka pendek banyak dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap pasokan dan ekspor.
Jika data ekspor dan produksi yang dirilis pekan depan menunjukkan penurunan suplai atau lonjakan permintaan, bukan tidak mungkin harga akan kembali mendapat tenaga untuk rebound.
Sebaliknya, jika angka-angka tersebut mengecewakan, tekanan harga bisa berlanjut hingga awal Agustus.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















