PEMALANG – Akses menuju Kecamatan Watukumpul kini terhambat serius akibat rentetan bencana tanah longsor yang terjadi di ruas jalan Desa Semingkir menuju Watukumpul. Titik terparah dilaporkan berada di Desa Wisnu, di mana Jembatan Mendelem ambruk total, memutus urat nadi ekonomi warga dan titik lainya mengalami longsor

Namun, di tengah perjuangan warga dan relawan memulihkan akses jalan dan jembatan , muncul dugaan praktik mark-up harga material bantuan batu krosok dari DPU yang melibatkan oknum Unit Pengelola Jalan dan Irigasi (UPJI).

Berdasarkan informasi yang dihimpun pada Kamis 5/5 bantuan material batu krosok untuk penanganan darurat di wilayah Wisnu berjumlah 30 dump truck. Kepala UPJI 1 Watukumpul, Adam Damiri, menyebutkan harga material tersebut dipatok Rp1.100.000 per rit.

Kejanggalan muncul saat diketahui bahwa pengadaan material tersebut diduga ditalangi oleh oknum pegawai UPJI berinisial SG.

“Warga setempat yang juga berprofesi sebagai sopir truk, LY, menyatakan dalam Vidio bahwa harga tersebut jauh di atas standar pasar”

“Harga pasaran batu krosok itu kisaran Rp850 ribu per dump truck. Kalau sampai ke Desa Wisnu mencapai Rp1,2 juta, itu tidak lazim,” ungkap LY.

Kami pun mencoba mencari informasi lainya kepada pemerhati jalan yaitu T .Saat dikonfirmasi oleh T , SG tidak menampik bahwa dirinya yang menalangi pembelian material tersebut. Ia menilai keuntungan yang diambil adalah hal yang wajar karena menggunakan dana pribadi terlebih dahulu.

“Saya yang menalangi, wajar ambil untung. Pinjam sama teman saja ada tambahannya,” ujar SG memberikan pembelaan.tuturnya

Kondisi ini memicu reaksi keras dari para pemerhati jalan dan masyarakat. Mereka menyayangkan jika situasi bencana justru dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi, apalagi warga saat ini tengah berjibaku melakukan swadaya dan menggalang bantuan donatur untuk perbaikan jalan.

Masyarakat menuntut adanya klarifikasi resmi dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Pemalang agar penanganan bencana berjalan transparan dan akuntabel tanpa menimbulkan polemik yang mencederai semangat gotong royong warga. (Tim)