PEMALANG – Kasus dugaan perundungan (bullying) kembali mencuat di lingkungan pendidikan. Kali ini, seorang siswa kelas 7B di SMP Negeri 1 Pemalang berinisial N, diduga menjadi korban kenakalan rekan sekolahnya. Orang tua korban menyatakan kekecewaannya setelah mendapati wajah anaknya dalam kondisi belang-belang akibat coretan tinta dan pakaian seragam yang kerap kotor.

​Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak keluarga korban pada Rabu (4/2/2026), dugaan aksi perundungan ini telah berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Orang tua N mengungkapkan bahwa anaknya sering pulang dengan kondisi seragam bagian belakang penuh noda tinta.

​Puncaknya terjadi pada Rabu sore, di mana ibu korban melaporkan bahwa wajah N ditemukan dalam kondisi penuh bekas tinta (belang-belang). Selain fisik, korban juga diduga mengalami intimidasi mental dari teman-temannya yang menyebabkan korban cenderung tertutup.

​Berdasarkan dokumentasi foto yang diterima redaksi, terlihat jelas noda tinta hitam yang membekas pada pipi dan bagian wajah siswa tersebut. Selain itu, terdapat foto seragam batik sekolah khas SMP Negeri 1 Pemalang yang juga terkena bercak tinta di beberapa titik.

​Dalam tangkapan layar percakapan WhatsApp antara orang tua korban dan pihak sekolah (Raras selaku Guru BK), terungkap bahwa korban N cenderung tertutup dan tidak berani bercerita kepada pihak sekolah maupun orang tua.

“Masalahnya (N) kalau ditanya wali kelas/guru BK tidak terbuka pak, bu ngapunten. Barangkali sama orang tua terbuka. Nanti saya langsung konseling anak yang nakal,” tulis Raras dalam pesan singkat tersebut menanggapi laporan orang tua.


​Kepala SMP Negeri 1 Pemalang, Sidik, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Rabu sore, menyatakan akan segera menindaklanjuti laporan tersebut.

“Besok saya crosscheck dulu nggih,” jawabnya singkat saat dimintai konfirmasi oleh awak media.

​Pihak keluarga berharap sekolah dapat segera mengambil tindakan tegas dan melakukan pengondisian terhadap siswa-siswa yang diduga melakukan intimidasi. Langkah ini dinilai penting agar lingkungan sekolah kembali aman bagi seluruh siswa dan mencegah dampak psikologis yang lebih berat bagi korban.

​Kasus ini kini tengah dalam pengawasan pihak terkait untuk memastikan kebenaran kronologi dan pemberian sanksi atau pembinaan sesuai aturan pendidikan yang berlaku.