Jakarta, – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Rizal Bawazier, tak bisa menyembunyikan kekesalannya terhadap PT Perumnas. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Jakarta pada Selasa lalu, pria yang akrab disapa RB ini menyentil BUMN tersebut karena tak kunjung membangun rumah murah di daerah pemilihannya, yaitu Pekalongan, Batang, dan Pemalang.
RB menyoroti fakta bahwa Perumnas sudah punya rekam jejak mentereng dengan lebih dari 400 lokasi dan 31 proyek aktif di berbagai penjuru negeri. “Perumnas sudah hadir lebih dari 400 lokasi dan 31 proyek aktif. Tapi kenapa tidak ada di Pekalongan, Batang, Pemalang?” tanya RB dengan nada geram. Ia bahkan menegaskan, lahan di Pemalang sangat luas dan siap membantu urusan perizinan jika itu jadi kendala.
Politisi PKS ini mendesak Perumnas untuk segera membangun hunian terjangkau di dapilnya agar masyarakat berpenghasilan rendah bisa punya rumah layak. “Mohon dibantu, Bu, agar dapil kami juga mendapatkan rumah murah. Masyarakat kami di Pekalongan, Pemalang, Batang insyaallah rajin bayar kalau pakai KPR,” ujarnya optimistis.
Perumnas BUMN, Kualitas Bukan Kaleng-kaleng
Bukan cuma soal ketiadaan proyek, Rizal Bawazier juga menyindir fenomena rumah murah yang dibangun pengembang kecil tapi gampang rusak. Ia membandingkannya dengan Perumnas yang notabene BUMN. “Kalau Perumnas kan BUMN, kekuatan keuangannya bagus. Masyarakat juga lebih tenang karena kualitasnya tidak abal-abal,” tegasnya, menyoroti pentingnya kualitas bangunan.
Menanggapi sindiran itu, perwakilan Perumnas, Tambok, mengakui bahwa mereka memang belum punya lahan di Batang dan Pemalang. “Di Pekalongan kami ada, Pak, di Slamaran. Tapi untuk Batang dan Pemalang kami belum punya lahan. Masukan dari Bapak akan kami pertimbangkan,” jawab Tambok.
Laporan Keuangan Perumnas Disorot, Divestasi Jadi Harapan
Tak hanya urusan rumah, RB juga tak luput menyoroti laporan keuangan Perumnas yang dinilainya “kurang sehat”. Ia mendesak agar kinerja keuangan perusahaan segera dibenahi, termasuk melalui strategi divestasi. “Saya lihat laporan keuangannya masih kurang bagus. Mohon kinerja ke depan bisa lebih baik. Saya juga ingin tahu target divestasinya, apakah sudah maksimal atau masih bisa ditingkatkan,” kritiknya.
Tambok menjelaskan bahwa divestasi memang akan dituntaskan pada tahun 2025 sebagai bagian dari upaya perbaikan rasio keuangan dan menjaga keberlanjutan perusahaan. “Targetnya memang maksimal. Insyaallah selesai di 2025,” jawabnya.
Dalam RDP yang sama, Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk, Novel Arsyad, melaporkan pencapaian positif dengan kontrak baru sebesar Rp 9,369 triliun hingga kuartal II 2025. PT PP menargetkan kontrak baru Rp 28,5 triliun tahun ini dan sedang mengincar proyek di IKN.
Rizal Bawazier berharap keras agar Perumnas bisa segera mewujudkan proyek rumah murah di Pekalongan, Batang, dan Pemalang. “Kami siap fasilitasi kalau dibutuhkan. Yang penting rakyat kami bisa punya rumah murah dan layak,” tutup RB, menegaskan komitmennya untuk masyarakat di dapilnya.
Eksplorasi konten lain dari CMI News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















