Scroll untuk baca artikel
banner
banner
banner
Sejarah

Calung: Suara Bambu yang Menyatukan Kerajaan dan Masyarakat

×

Calung: Suara Bambu yang Menyatukan Kerajaan dan Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Calung dibuat dari potongan-potongan bambu yang diolah secara teliti. Tiga jenis bambu yang sering digunakan untuk membuat Calung adalah bambu hitam, bambu petung, dan bambu wuluh. Bambu-bambu ini dipilih berdasarkan karakteristik nada yang dihasilkan. Bambu hitam menghasilkan nada yang rendah, sementara bambu petung dan bambu wuluh menghasilkan nada yang lebih tinggi.

Rangkaian bambu ini kemudian diberi lubang dengan ukuran yang berbeda di sisi atasnya. Ukuran dan letak lubang ini memengaruhi nada yang dihasilkan saat bambu dipukul.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Proses pembuatan Calung memerlukan keterampilan dan keahlian khusus dalam memilih dan memahat bambu sehingga menghasilkan suara yang indah dan harmonis.

Asal Muasal Nama Calung

Melansir dari Buku Waditra Mengenal Alat-Alat Kesenian Daerah Jawa Barat oleh Drs Ubun Kubarsah R menyebutkan jika asal-usul kata Calung berasal dari penggabungan dua kata, yaitu ca yang bermakna maca (membaca) dan lung yang mengacu pada linglung atau kebingungan.

Pada masa lalu, alat musik Calung digunakan sebagai instrumen tunggal yang sering dimainkan oleh orang yang sedang menunggu panen padi di ladang atau sawah. Bagi mereka yang memainkannya, musik yang dihasilkan oleh Calung memberikan rasa nyaman dan menghibur saat mereka merasa bingung atau kebingungan (haté nu keur liwung).

Mengapa alat musik ini dinamai Calung? Kata Calung berasal dari bahasa Sunda yaitu carang pring wulung (pucuk bambu wulung), ada pula yang mengartikannya dengan dicacah melung-melung (dipukul berbunyi nyaring) yang akhirnya memberikan nama pada alat musik ini.









error:
Verified by MonsterInsights