“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Kami berharap ke depan Pemalang bisa keluar dari peringkat atas terkait angka perceraian dan pernikahan dini. Hal tersebut tentu membutuhkan kerja sama lintas sektoral, lintas dinas dan lintas komunitas,” tegas Anom.
Tingginya angka pernikahan anak di bawah umur menciptakan efek domino yang merugikan. Selain memicu tingginya risiko perceraian di usia muda karena ketidaksiapan mental dan ekonomi, fenomena ini juga berkontribusi langsung pada lahirnya generasi baru yang rentan terhadap masalah kesehatan seperti stunting, yang pada akhirnya memperpanjang rantai kemiskinan ekstrem di daerah.












