Peristiwa mengejutkan baru-baru ini menghebohkan jagat media sosial Indonesia. Sebuah Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), yang seharusnya menjadi simbol prestasi pendidikan, ditemukan digunakan untuk membungkus pecel lele.

Kejadian ini menjadi viral setelah diunggah oleh pengguna Facebook bernama @Wisnu Restu Prabowo di grup Geger Geden Surakarta pada 28 Januari 2025. Dalam postingannya, Prabowo menulis, “Yu Aku Nemu Ijazah mu go buntel lele bakar,” yang menambah kesan humor namun sekaligus menyentuh hati banyak netizen.

 

Viral! Prabowo Turun Tangan Soal Ijazah Untuk Bungkus Pecel Lele

Ijazah tersebut dikeluarkan oleh SMA Negeri Colomadu di Karanganyar atas nama Tutik Gustanti, dengan tanggal penerbitan 14 Juni 2002. Tak disangka, ijazah yang seharusnya menjadi bukti hasil pendidikan yang panjang malah dijadikan bungkus makanan yang bisa ditemukan di warung pecel lele.

Kejadian ini memicu berbagai reaksi dari pengguna media sosial, yang sebagian besar merasa kecewa dan terkejut dengan perlakuan tersebut.

Namun, ini bukan kali pertama sebuah ijazah digunakan sebagai pembungkus makanan. Sebelumnya, sudah ada kasus serupa yang viral, salah satunya adalah ijazah SD yang digunakan untuk membungkus mi, yang diunggah di Facebook.

Selain itu, sebuah ijazah SMP juga ditemukan digunakan untuk membungkus gorengan, yang diposting di Twitter. Tindakan seperti ini memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana masyarakat menghargai dokumen pendidikan yang sangat berarti bagi masa depan seseorang.

Pemerintah dan masyarakat umumnya memandang ijazah sebagai bukti sah atas pencapaian pendidikan. Ijazah ini mengandung nilai dan simbol penting yang mewakili perjuangan, waktu, dan usaha yang telah dikeluarkan oleh seseorang dalam proses belajar.

Oleh karena itu, tindakan menggunakan ijazah untuk keperluan yang tidak layak dipandang sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap makna mendalam dari dokumen tersebut.

Menanggapi viralnya kejadian ini, banyak netizen yang mengungkapkan kekecewaannya. Mereka menyayangkan bahwa ijazah yang seharusnya dihargai sebagai simbol prestasi dan jerih payah, kini diperlakukan dengan cara yang kurang pantas.

Beberapa warganet bahkan mengimbau agar semua pihak lebih menghormati dokumen pendidikan dan memperlakukan ijazah dengan layak.

Meskipun ada yang mencoba melihatnya dari sisi humor atau keisengan, kejadian seperti ini juga menjadi bahan refleksi bagi kita semua tentang pentingnya menghargai pendidikan. Tidak hanya dalam hal prestasi akademik, tetapi juga dalam menghormati perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh seseorang untuk meraih pendidikan.

Di tengah banyaknya pro dan kontra mengenai peristiwa ini, satu hal yang jelas adalah bahwa kita semua harus lebih bijak dalam memperlakukan dokumen-dokumen penting yang mewakili pencapaian kita dalam kehidupan. Kejadian ini juga mengingatkan kita untuk menghargai setiap langkah yang telah kita ambil dalam menuntut ilmu, serta untuk selalu menghormati hasil jerih payah pendidikan kita.